Cara tidak menciptakan jarak saat kondisi sedang marah?

17 Okt

Jarak antara dua hati insan, dipengaruhi sejauh mana intensitas komunikasi bathin/interaksi bathin antara keduanya. Misal, orang tua dan anak, suami dan istri, sepasang kekasih yang saling mencintai.
Bentuk atau jenis emosi seperti apa yang terbangun serta sejauh mana kualitasnya juga dipengaruhi beberapa hal. Intensitas akan mempengaruhi kualitasnya artinya bentuk emosi yang terbangun adalah akumulasi dari interaksi seperti apa yang dibangun serta emosi yang ditimbulkannya. Disamping itu, juga dipengaruhi watak dasar dari masing-masing individu yang bersangkutan, serta jenis permasalahan yang dihadapi / yang sedang terjadi.
Hubungan-hubungan diatas akan saya jelaskan sebagai berikut; Bentuk hubungan antar individu tersebut dipengaruhi oleh akumulasi emosi dari interaksi yang terbangun serta serta seberapa besar kecilnya dipengaruhi oleh intensitas terjadinya akumulasi itu. Sebagai contoh, bila sepasang suami istri, kekasih, juga orang tua dan anak, diantara masing-masing terjalin komunikasi yang kurang baik maka akan menimbulkan akumulasi (pertambahan) nilai emosi tertentu (dalam hal ini negatif) sebagai akibat interaksi semacam itu. Setiap pertemuan atau interaksi, ternyata yang terjadi adalah ketidakcocokan, tidak “sreg” atas salah satu sikap pihak lain, ungkapan/sikap kasar salah satu pihak, akan mengakibatkan akumulasi perasaan tidak puas, marah, kecewa, benci dsb, yang justru kalau tidak dikendalikan dan dikurangi akan meningkatkan intensitas emosi dalam interaksinya.
Cara tidak menciptakan jarak saat kondisi sedang marah?
Pertanyaan sederhanya tapi memerlukan pembahasan yang sangat kompleks (he he he menurutku lhooo).
Ini menyangkut sikap pengendalian diri serta pengenalan watak dan karakter pribadi kita masing-masing lalu belajar untuk mengatur dan mengarahkannya. Bentuk akumulasi emosi negatif seperti dijelaskan diatas, dapat di kelola atau di manage agar bisa mengarah kepada bentuk interaksi yang positif. Ini juga terkait dengan apa yang ditanyakan lho…
Langkah yang paling awal adalah, kita “waskita”, alias bisa mengenali bentuk-bentuk emosi yang muncul pada saat terjadinya interaksi. bilamana kita “awas” dan menyadarinya saat itu, kita bisa memilih sikap seperti apa yang akan kita ambil.
Kalau menurut Steven R Covey, bahwa ” Diantara stimulus dan respon, terdapat ruang dimana kita bebas membuat pilihan atas stimulus tersebut”. Ruang tersebut memberikan arti tanggung jawab atas semua pilihan tindakan kita baik yang positif maupun yang negatif sesuai nilai yang dipahami. wah dah masuk ranah nilai nih, jadi panjaaaang deh…
Nilai disini adalah, berbagai bentuk pemahaman, pengetahuan, asumsi-asumsi, keyakinan-keyakinan yang dianut oleh seseorang dan digunakan untuk melihat dunia dalam kacamata nilainya itu. Hanya, masing-masing orang memiliki nilai yang tidak semuanya sama. Nah, disini kadang menjadi persoalan tersendiri dimana perbedaan nilai yang jadi acuan kadang menjadikannya bertolak belakang satu dengan lainnya, (bahkan perang dunia.. he he he). Akan tetapi, hampir semua manusia sepakat terhadap suatu nilai-nilai tertentu dimana hal itu tidak terbantahkan seperti, kejujuran, simpati, welas asih, dll. Nilai-nilai universal ini oleh steven r covey disebutnya sebagai “kompas utara” yang dijadikan sebagai acuan. Ini juga bisa disebut sebagai “prinsip”. Semakin dekat nilai- nilai yang dimiliki seseorang dengan “kompas utara” atau hukum universal ini, semakin validlah peta (nilai) itu terhadap wilayah (prinsip) yang dibuat petanya tersebut.
Oleh karena itu, latihan diri secara kontinu dan berkembang seperti spiral yang mengarah ke atas, dapat menjadikan “ruang antara” stimulus dan respons seperti diatas dapat diperbesar, sehingga semakin banyak pilihan responnya dan sekaligus bertanggung jawab. Seperti studi kasus pada pertanyaan diatas adalah pilihan apa yang bisa diambil saat sedang marah? Yang diinginkan adalah memperkecil ruang jarak hati keduanya.
Maka, menurut saya, pilihannya sangat banyak. Misalkan terlebih dahulu melakukan instrospeksi diri, menggali nilai-nilai diri sendiri (ini mempengaruhi mana baik buruk menurut diri pribadi), setelah itu mengambil sikap terbaik dalam hal ini, nilai bahwa persaudaraan, pertemanan, keakraban, kasih sayang, cinta dan sebagainya merupakan nilai yang dijadikan acuan, sehingga pilihan respons kita adalah memaafkan dan berupaya untuk kembali lebih dekat lagi (secara hati dan pikiran).
Pertanyaanya, memaafkan itu kan sulit? Benar, bahwa pada sebagian orang, memaafkan atau sikap-sikap lain sejenis sangatlah berat, oleh karena itu, perubahan paradigma dan nilai kita sangat mempengaruhi mudah atau sulitnya mengambil sikap seperti itu, dimana hal itu perlu dilatih secara terus menerus. Latihannya sebagaimana penjelasan diatas, secara kontinu dan berkembang spiral keatas, Steven Covey mengatakan hal ini dengan mengasah gergaji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: