Dari Lubuk Hatiku

17 Okt

Dari lubuk hatiku burung terbang dan membumbung ke angkasa. Meski makin tinggi membumbung, tapi tampak makin membesar. Mula-mula seperti burung layang-layang, kemudian seperti camar, lalu seperti elang, lantas sebesar awan musim semi, selanjutnya melayang di langit yang penuh bintang.

Dari lubuk hatiku seekor burung terbang membumbung ke angkasa. Ia semakin besar selagi terbang. Namun ia  tidak berpaling dari hatiku. Wahai imanku, pedoman yang belum teguh, bagaimana aku mungkin terbang menuju puncakmu, dan melihat bersama sosok insan yang lebih besar dan terlukis di langit?

Bagaimana aku dapat menciptakan lautan ini bersamaku menjadi kabut, lalu melayang bersamamu dalam ruang semesta tanpa matra?

Bagaimana seorang narapidana di dalam kuil dapat melihat kubah emas kuil itu?
Dapatkan biji buah digelembungkan sehingga dapat merangkum buahnya?
Wahai imanku, aku terantaii di balik palang-palang perak dan kayu hitam, sehingga aku tak dapat terbang bersamamu. Namun dari lubuk hatiku engkau membumbung ke angkasa. Hatikulah yang ingin menggapaimu, sehingga terasa lega di dada.

[Dari Sang Pralambang : Dari Lubuk Hatiku, Kahlil Gibran]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: