KUALITAS PEMIMPIN

26 Des

Selama beberapa bulan saya telah mengadakan interview dengan beberapa klien untuk mendefinisikan kualitas-kualitas terbaik dari pemimpin-pemimpin yang paling efektif. Berikut ini adalah lima kualitas yang paling sering disebut-sebut sebagai kualitas paling penting yang dimiliki oleh para pemimpin tersebut.

1–Pemimpin mendengarkan.
Para pemimpin besar tahu pasti bahwa mereka tidak memiliki semua jawaban.
Karenanya mereka tidak merasa canggung untuk bertanya dan meminta pendapat maupun wawasan dari orang lain.

2–Pemimpin menunjukkan arah
Para pemimpin menunjukkan arah dengan mengembangkan dan memberikan dukungan visi, misi, dan tujuan bagi diri mereka sendiri dan organisasi mereka.
Mereka tahu bagaimana memberikan dorongan dan dukungan.
Mereka pun selalu berusaha menemukan cara-cara yang lebih baik.

3–Pemimpin menciptakan lingkungan yang penuh motivasi.
Para pemimpin menciptakan suasana motivasi yang menyala-nyala dalam menghadapi perubahan.
Para pemimpin itu menunjukkan penghargaan dan keberanian (daripada mencemooh atau menyalahkan orang lain) pada mereka yang bersedia mencoba hal-hal baru meski mungkin saja mereka gagal.

4–Pemimpin tidak menyalahkan.
Daripada menyalahkan, mereka senantiasa belajar.
Pemimpin sejati berusaha menciptakan lingkungan kerja yang menunjang suasana pembelajaran yang tiada henti serta pembaharuan diri.
Mereka dengan bebas membagikan keahlian dan juga kegagalan-kegagalan mereka.

5–Pemimpin memimpin dengan teladan.
Pemimpin menjadi teladan dan mempertahankan nilai-nilai yang tak berubah.
Para pemimpin besar memiliki standar profesional dan personal yang tinggi.
Mereka juga menghargai kekayaan yang ada pada keragaman dan perbedaan para karyawannya.
Mereka realitis. Mereka bukan orang yang berkata, “Lakukan sebagaimana kataku, bukan sebagaimana tingkahku.”
Pemimpin besar menjaga komitmen mereka.
Pemimpin membagikan kekuasaan mereka dalam membuat keputusan dengan orang lain di seluruh organisasi.
Mereka paham benar dengan perbedaan antara “kekuatan” dan “kekuasaan”. Kekuatan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan tindakan secara efektif. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan. Apakah anda lebih suka terinspirasikan atau terkendalikan?

Apakah para pemimpin anda menunjukkan kualitas-kualitas tersebut di atas?
Jika tidak, bagian manakah yang terlewati dan apa yang harus anda lakukan?

(Linda R. Dominguez, CoachingWeekly, http://www.executive-coaching.com)

Sumber : www.indosdm.com

2 Tanggapan to “KUALITAS PEMIMPIN”

  1. wong cilik 29 Desember 2008 pada 12:42 pm #

    wah bagus sekali artikel yang ada disini, sepertinya sangat menunjukan kepribadian anda. saya juga punya cerita tentang kepemimpinan yang mennurut saya sangat bagus seperti inidalam sebuah novel “the ship builder” seperti ini ceritanya:
    Marcus adalah seorang pembuat kapal di Athena, 2,500 tahun yang lalu. Ia adalah pemilik usaha dan pekerja keras yang membawahi belasan karyawan. Namun, kerja keras tidak cukup. Usaha Marcus nyaris guncang, karena hampir tidak dapat memenuhi deadline delivery kapal yang dipesan pelanggannya. Penyebabnya karena para karyawannya yang hampir tidak punya spirit. Jumlahnya terus menurun, hingga tinggal beberapa orang, itupun dengan skill yang tidak mencukupi. Padahal Marcus sudah berusaha memberikan fasilitas yang baik. Tapi mengapa para karyawan tidak mau bekerja sesuai dengan keinginannya. Kalau Marcus sampai gagal menyelesaikan project pembangunan kapalnya, apa kata dunia? Ini kedengarannya akrab di telinga saya.

    Beruntung Marcus bertemu dengan Barnabas, seorang pembuat kapal paling sukses di Athena waktu itu. Untunglah Marcus tidak malu untuk bertanya. Dan dengan bijaksana Barnabas membagi ilmu nya. Yang ternyata dia peroleh dari lima keping sabak (tablet) yang berisi rahasia sukses dalam membangun imperium bisnis kapalnya. Saya tahu, pasti Anda juga ingin tahu rahasia nya kan? Oke, ini dia:

    Buatlah mereka merasa dihargai

    Kapankah terakhir Anda benar-benar menyatakan bahwa Anda menghargai karyawan Anda? Maksud saya menyatakan secara langsung, face to face. Ini yang harus kita koreksi. Biasanya kita hanya memberikan tugas dan perintah. Namun lupa memberikan apresiasi atas apa yang karyawan telah lakukan untuk usaha kita. Padahal betapa jerih payah mereka sedikit banyak telah memberikan kontribusi bagi usaha yang kita kelola.

    Orang tua kita jaman dulu sebenarnya sudah banyak memberikan contoh, dengan selalu mengucapkan “tolong” ketika memberikan tugas, dan mengucapkan “terimakasih” ketika tugas selesai dilaksanakan. Ada baiknya hal sederhana ini diterapkan kepada tim .

    Lihat potensi mereka, bukan kekurangan mereka

    Ini yang sulit. Sebagai pengusaha kita mau instan. Maunya kalau punya karyawan ya yang siap pakai, siap kerja. Kalau selama bekerja performance tidak sesuai dengan harapan ya kasih surat peringatan, kalau perlu dikeluarkan, ganti yang lebih bagus. Padahal ternyata sebuah permata bisa datang dari batu yang kita sangka batu biasa. Kalau kita berkutat pada kesalahan dan keburukan karyawan kita, bisa-bisa potensi yang sebenarnya tidak pernah terlihat.

    Memimpinlah dengan otoritas, bukan kekuasaan

    Otoritas berbeda dengan kekuasaan. Dengan kekuasaan, kita dapat memerintahkan karyawan kita melakukan sesuatu yang kita minta. Dan kalau tidak melaksanakan kita berikan sanksi. Namun, justru seni nya adalah, bagaimana membuat karyawan melakukan sesuatu yang kita inginkan dengan sukarela, tanpa perlu kita perintahkan, itulah otoritas.

    Otoritas datang dari integritas kita sebagai pemilik. Jika kata-kata kita bisa dipegang. Jika kita bisa memberikan contoh kepada karyawan bahwa kita melakukan apa yang kita ucapkan. Jika kita bisa “walk the talk”, maka otoritas akan dapat kita miliki. Kekuasaan bisa datang dan pergi, namun otoritas akan melekat pada pribadi.

    Cintai mereka terlebih dahulu

    Tentu kita ingin dicintai oleh karyawan. Namun cinta karyawan kita tidak dapat kita beli. Mereka baru akan mencintai kita, ketika kita mencintai mereka terlebih dahulu. Dan cinta adalah kata kerja, yang baru dapat dirasakan oleh karyawan, dengan tindakan kita. Cinta disini maksudnya adalah bagaimana kita memperlakukan karyawan dengan rasa hormat, sayang dan penuh kasih. Tentu saja maksudnya ke semua karyawan, bukan karyawan2 tertentu saja.

    Buatlah mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang luar biasa

    Mungkin usaha Anda memiliki visi luar biasa. Mungkin Anda bercita-cita membangun konglomerasi global. Mungkin Anda yakin suatu saat nanti usaha Anda akan menjadi nomor satu di Asia. Namun, apa guna nya cita-cita tersebut bagi karyawan kita, jika mereka tidak merasa menjadi bagian dari cita-cita besar tadi.

    Disinilah tantangan untuk selalu memahami apa mimpi karyawan kita, dan mengkaitkan mimpi perusahaan dengan mimpi mereka. Ketika mimpi perusahaan adalah mimpi karyawan, maka kemajuan ada di tangan. Maka prinsip terakhir ini oleh Myrick disebut sebagai “unifying principle”.

  2. kangoyot 29 Desember 2008 pada 6:32 pm #

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih telah mampir di blog ini. Meski sederhana saya harap dapat menjadi arti bagi para pembaca yang sempat mampir di sini. Yang kedua, saya merasa bahagia dan terharu, atas tambahan tulisan anda di sini… sampai-sampai saya tak kuasa ingin mamasukkan tulisan Anda di postingan blog ini.. Terima kasih mas. Bila tidak keberatan mari sama-sama kita bangun komunitas pemimpin yang berpusat pada nilai-nilai, prinsip, dan good character. Tetap kontak selalu ya mas… thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: