Pelajaran Kepemimpinan dari sebuah Novel "The Ship Builder"

29 Des

Marcus adalah seorang pembuat kapal di Athena, 2,500 tahun yang lalu. Ia adalah pemilik usaha dan pekerja keras yang membawahi belasan karyawan. Namun, kerja keras tidak cukup. Usaha Marcus nyaris guncang, karena hampir tidak dapat memenuhi deadline delivery kapal yang dipesan pelanggannya. Penyebabnya karena para karyawannya yang hampir tidak punya spirit. Jumlahnya terus menurun, hingga tinggal beberapa orang, itupun dengan skill yang tidak mencukupi. Padahal Marcus sudah berusaha memberikan fasilitas yang baik. Tapi mengapa para karyawan tidak mau bekerja sesuai dengan keinginannya. Kalau Marcus sampai gagal menyelesaikan project pembangunan kapalnya, apa kata dunia? Ini kedengarannya akrab di telinga saya.

Beruntung Marcus bertemu dengan Barnabas, seorang pembuat kapal paling sukses di Athena waktu itu. Untunglah Marcus tidak malu untuk bertanya. Dan dengan bijaksana Barnabas membagi ilmu nya. Yang ternyata dia peroleh dari lima keping sabak (tablet) yang berisi rahasia sukses dalam membangun imperium bisnis kapalnya. Saya tahu, pasti Anda juga ingin tahu rahasia nya kan? Oke, ini dia:

Buatlah mereka merasa dihargai

Kapankah terakhir Anda benar-benar menyatakan bahwa Anda menghargai karyawan Anda? Maksud saya menyatakan secara langsung, face to face. Ini yang harus kita koreksi. Biasanya kita hanya memberikan tugas dan perintah. Namun lupa memberikan apresiasi atas apa yang karyawan telah lakukan untuk usaha kita. Padahal betapa jerih payah mereka sedikit banyak telah memberikan kontribusi bagi usaha yang kita kelola.

Orang tua kita jaman dulu sebenarnya sudah banyak memberikan contoh, dengan selalu mengucapkan “tolong” ketika memberikan tugas, dan mengucapkan “terimakasih” ketika tugas selesai dilaksanakan. Ada baiknya hal sederhana ini diterapkan kepada tim .

Lihat potensi mereka, bukan kekurangan mereka

Ini yang sulit. Sebagai pengusaha kita mau instan. Maunya kalau punya karyawan ya yang siap pakai, siap kerja. Kalau selama bekerja performance tidak sesuai dengan harapan ya kasih surat peringatan, kalau perlu dikeluarkan, ganti yang lebih bagus. Padahal ternyata sebuah permata bisa datang dari batu yang kita sangka batu biasa. Kalau kita berkutat pada kesalahan dan keburukan karyawan kita, bisa-bisa potensi yang sebenarnya tidak pernah terlihat.

Memimpinlah dengan otoritas, bukan kekuasaan

Otoritas berbeda dengan kekuasaan. Dengan kekuasaan, kita dapat memerintahkan karyawan kita melakukan sesuatu yang kita minta. Dan kalau tidak melaksanakan kita berikan sanksi. Namun, justru seni nya adalah, bagaimana membuat karyawan melakukan sesuatu yang kita inginkan dengan sukarela, tanpa perlu kita perintahkan, itulah otoritas.

Otoritas datang dari integritas kita sebagai pemilik. Jika kata-kata kita bisa dipegang. Jika kita bisa memberikan contoh kepada karyawan bahwa kita melakukan apa yang kita ucapkan. Jika kita bisa “walk the talk”, maka otoritas akan dapat kita miliki. Kekuasaan bisa datang dan pergi, namun otoritas akan melekat pada pribadi.

Cintai mereka terlebih dahulu

Tentu kita ingin dicintai oleh karyawan. Namun cinta karyawan kita tidak dapat kita beli. Mereka baru akan mencintai kita, ketika kita mencintai mereka terlebih dahulu. Dan cinta adalah kata kerja, yang baru dapat dirasakan oleh karyawan, dengan tindakan kita. Cinta disini maksudnya adalah bagaimana kita memperlakukan karyawan dengan rasa hormat, sayang dan penuh kasih. Tentu saja maksudnya ke semua karyawan, bukan karyawan2 tertentu saja.

Buatlah mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang luar biasa

Mungkin usaha Anda memiliki visi luar biasa. Mungkin Anda bercita-cita membangun konglomerasi global. Mungkin Anda yakin suatu saat nanti usaha Anda akan menjadi nomor satu di Asia. Namun, apa guna nya cita-cita tersebut bagi karyawan kita, jika mereka tidak merasa menjadi bagian dari cita-cita besar tadi.

Disinilah tantangan untuk selalu memahami apa mimpi karyawan kita, dan mengkaitkan mimpi perusahaan dengan mimpi mereka. Ketika mimpi perusahaan adalah mimpi karyawan, maka kemajuan ada di tangan. Maka prinsip terakhir ini oleh Myrick disebut sebagai “unifying principle”.

Sumber : dari seorang sahabat:  freearief@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: