Secuil Pencerahan: "Silence & Strenght" (Mature Leader)

30 Des

Silence, berdiam diri! Ada sahabat selalu bertanya, “bagaimana mengelola kalbu?” Sekali lagi, hati disini adalah kalbu (the heart), non-fisik, tak nampak, tapi terasa dahsyat, bukanlah segumpal daging, bukan organ tubuh. Ia tempat dimana kita jatuh cinta. Ingat ungkapan yang sangat dekat dengan telinga kita, “kekasih hatiku dambaan kalbuku, belahan jiwaku..(soul mate, hmmm)!” “Hatiku menari-nari, jiwaku melompat-lompat..”.ungkapan yang menggetarkan, bukan? Itulah cara kerja dan fungsinya hati (kalbu). Orang sering memegang dadanya untuk menunjukkan hatinya sedang tersentuh atau bergelora atau sedang sedih. Tapi, “the heart” dalam bahasa Inggris, artinya selain hati (kalbu) juga berarti organ jantung secara fisik. Lalu kata sahabat, “Apakah mengelola kalbu sama saja dengan bagaimana menemukan dan mengelola cinta?” Hati sangat dekat dengan rasa cinta. Cinta adalah sifat Tuhan yang utama. Tuhan berarti ketenangan dan kedamaian. Itu sifatNya. Itu ciri khas cintaNya, ketenangan dan kedamaian. Jawaban mudahnya, ternyata melalui jalan “silent” (adjective: berdiam diri) ungkap Mother Theresa yang telah mengerti banyak tentang makna hidup dan makna cinta. Ia mengartikan cinta sebagai Tuhan yang penuh kasih sayang. Hening, tenang, berdiam diri adalah jalan menuju kepada doa. Doa jalan menuju kepada iman. Iman jalan menuju kepada cinta. Cinta adalah jalan menuju kepada pelayanan. Pelayanan jalan menuju kepada kedamaian. Dan cinta adalah kekuatan hakiki nan abadi, karena ia adalah sifatnya Tuhan. Cinta itu kemudian melahirkan kebahagiaan hati, merasa damai, merasa tenang, merasa cukup dan merasa senang meski sedang dilanda kesedihan, di PHK dari kerjaan. Berdiam diri bagi pemimpin adalah kekuatan. ”Tengoklah kedalam” potongan syair Ebiet G. Ade tsb. cocok menggambarkan, ada kekayaan yang sudah lama kita tinggalkan. Apa itu? Lupa menengok kedalam, lupa melihat ke dalam diri, lupa bahwa disana ada kekuatan besar, cinta nan abadi, bukan diluar, bukan pada materi dan ciptaan. Materi dan harta, istilah Emha Ainun Najib, 55th, “mata’ul ghurur”, perhiasan dunia, kata Adolf Posumah dari Manado, “tai macan”, sesuatu yang harus dibuang keluar, tak berguna. Di luar sana, “uang” banyak yang menyamakan dengan hipokrisi dan kepalsuan yang bertele-tele, kekerdilan mental, kebutaan spiritual, mau cepat kaya, kebrutalan dan kesesatan ilmu serta kesesatan perilaku. Yang semuanya itu jauh dari ketenangan batin kita, bukan? “Untuk menangani kegundahan diri sendiri, gunakanlah akal Anda. Untuk menangani orang lain, gunakanlah hati Anda” (John C. Maxwell). Nampaknya leadership itu memang a relationship of many hearts (bukan komunikasi dengan uang). Dengan menengok kedalam, terang hati akan memancar dengan hebat, semakin keras dan semakin terang. Begitu ”terangnya” terpancar, gairah cinta itu akan menjalar ke seluruh pikiran dan rasa (”the power of unconditional love”). Begitu pikiran dan rasa tersentuh, seluruh tubuh tergerak. Ia akan menggerakkan moralitas dan karakter. Menjadi jujur, itulah upah dari terang kepemimpinan. Ketika terang hati menjelma menjadi sebuah kekayaan moral, orang di sekitar akan melihat terang itu, mereka dapat merasakannya. Mengapa? Mereka melihat ”walk the talk” berjalan di hidup Anda. “Bagai air bening dari sumber mata air jernih yang terus mengaliri selokan yang kotor, lama-kelamaan selokan akan jernih juga.” Anda dan saya lalu disebut, telah melakukan apa yang sering Anda & saya bicarakan di ruang meeting kantor atau di kelas training/seminar, yaitu kejujuran (integrity, honesty, the best value). Anda kini telah melakukan apa yang sering Anda teorikan, yaitu kebaikan. Anda kini telah melakukan apa yang sering Anda janjikan, yaitu kepedulian. Anda kini telah melakukan apa yang sering Anda impikan, yaitu kemuliaan. Kejujuran, kebaikan, kepedulian dan kemuliaan itu semua adalah buah-buah Roh yang Maha Tinggi yang ingin diwujudkan dalam perilaku dan tindakan para pemimpin. Diwariskan, diturunkan, dijadikan nyata. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” kata Emha Ainun. Emha pemimpin gerakan iman dan budaya, percaya bahwa pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya. ”Selagi ada tangan yang masih bersih, tangan yang kotor masih bisa dibersihkan..” (Harry uncommon). Lalu, apa yang akan terjadi jika Anda berubah jadi lebih tenang dan lebih damai? Inilah ekspresi-ekspresi awal dari orang terdekat Anda, ”Tumben, tenang banget bos kita.., keren?? Gak salah nih bos..? Serius bos? Besok lagi ya bos..he..he..!” Terang itu begitu kasat mata. Pemimpin yang baik, akan nampak oleh anak-anak buahnya. Pemimpin yang jahat juga lebih kelihatan. Keheningan menyelamatkan kita. Ketenangan pemimpin sumber kedewasaannya, sumber kematangannya (its source of maturity). “Anda tidak bisa berjabat tangan dengan tangan terkepal” (Indira Gandhi). Makanya orang-orang yang matang, gesturenya selalu open, terbuka, bersinar ingin membuka persahabatan dengan lingkungan sekitarnya. Matang lawannya mentah. Buah matang, empuk. buah mentah, keras. Salah satu kompetensi pemimpin matang (emotionally & attitude) ya tenang, sabar dan bijak. Kalau buah ia empuk. Bukan emosi & pikiran saja yang dibebaskan, tubuh juga dimerdekakan dari perbudakan kegelapan. Tubuh juga siap melakukan perubahan-perubahan. Tubuh akan kini ikhlas untuk menderita dan menerima ketidaknikmatan. Yang tersulit dari perubahan itu adalah mengajari tubuh. Ia maunya nikmat terus, senang terus, enak terus, kenyang terus. Gairah terang hati yang kini telah menjalari tubuh jasmani itulah, yang akan menutupi sensor-sensor kesenangan dan kenikmatan semu. Sensornya diganti. sensor derita dan pengorbanan yang kini mulai menguasai tubuh. Jika tubuh sudah dalam kendali sensor baru ini, kesakitan, kelaparan, deraan, pukulan bahkan pancungan kepalapun tidak akan ditakuti lagi oleh tubuh yang berani {“bold”). Contoh, dalam bertinju, otak akan mengeluarkan sensasinya. Dengan keagungan Tuhan, sang otak yang mengendalikan tubuh kita, mengeluarkan hormon endorphin. Tubuh petinju tak akan terasa sakit di-uppercut oleh lawan, juga di berondong jab oleh lawan, ia tetap berdiri, tidak roboh, tahan banting. Tulang rusuk yang patah tak terasakan. Itulah sensasi dari sensor otak yang sudah diubahkan, menjadi super kuat. Tubuh sudah dikendalikan oleh sensasi otak. Otak mengambil alih fungsi tubuh. Tubuh tinggallah hanya tulang, daging, kulit dan selulit. Tubuh merasakan derita tetapi tidak sedahsyat sebelumnya. Itulah mengapa Panglima Sudirman mampu bertahan gerilya keluar masuk hutan gelap dengan derita sakit paru-parunya yang gawat dan dahsyat ketika itu. Tubuhnya tidak lagi merasakan sakit. Masuklah kedalam, anda akan menemukan kekuatan hati. Kekuatan diri. Orang menyebutnya ”work with passion” (bekerja dengan kekuatan gairah yang tinggi dan intense feeling). Rahasia passion. Sebagai contoh nyata lainnya, Mahatma Gandhi mengapa mampu bertahan dalam siksaan fisik yang hebat? Ia sering menerima tendangan sepatu lancip sipir penjara dan puasa tanpa makan sepanjang hidupnya. Sampai akhirnya, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, dirinya ditembak oleh warganya sendiri yang beragama Hindu. Kenapa tahan? Ya, passion dari ketenangan dan kekuatan. Jika hari ini anda merasa tertekan & malu karena belum bisa naik mobil BMW ke kantor padahal anda seorang Direktur, itu masih belum apa-apa dibandingkan derita tubuh sepanjang hidup Panglima Sudirman dan Mahatma Gandhi. Hanya jika terang hati menguasai tubuh dan rasa, maka segala derita menjadi seperti ke titik zero. Masih ingat orang pajak yang ke kantor naik motor, meski sesungguhnya ia bisa menerima suap sebuah BMW 318i baru? Ingat kepala sekolah SMA yang menyapu sekolahnya setiap hari meski ia bisa memberi perintah saja kepada tukang sapu sekolah? Ingat seorang janda yang jualan pisang goreng keliling berjalan kaki hingga sakit asma berat, hanya karena tanggung-jawabnya untuk menyekolahkan anaknya sampai lulus di UGM? I

ngatkah perjuangan keras Andrie Wongso motivatir sukses dari Malang, yang tidak pernah lulus SD, harus berjualan kue yang dibuat ibunya sendiri, selagi teman-temannya pergi ke sekolah? Mengapa mereka melakukan semuanya itu? Anda kini sudah tahu jawabannya, bukan? Jika hari ini hidup Anda tidak dikuasai oleh keserakahan, maka kebesaran hati sudah menjadi milik Anda. Penuturan Peter F. Drucker: “Kita hidup di era peluang yang tak terduga, kesempatan begitu banyak. Jika memiliki ambisi, cerdik dan jujur, Anda akan dapat menaiki puncak profesi pilihan Anda, tanpa memandang dari mana Anda memulai. Tokoh besar lainnya seperti Napoleon, Da Vinci, Mozart, dan seniman besar lainnya, dapat kita teladani dalam mengelola diri sendiri yang diwujudkan dalam karya. [Classic Drucker, 2007]. Keberhasilan mengelola diri sendiri dan karya akan membawa semua pribadi berhasil, termasuk Anda. Masuklah kedalam, Anda akan menemukan kekuatan hati (Harry uncommon).

Sumber : milist IDNLP (oleh Harry Uncommon)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: