Mentalitas Berkelimpahan

31 Des

Pondasi nilai mentalitas berkelimpahan lebih penting dari mentalitas kekurangan untuk membangun Tim Berkinerja Tinggi adalah sikap mental yang jarang bisa kita temui lagi di Indonesia, apalagi kalau anda menengok di jalan raya ibukota dan kota-kota besar lainnya. Tampaknya yang ada adalah sikap menta lyang berlawanan dengan mentalitas yang dibutuhkan untuk maju bersama.

Mari kita tengok mentalitas ini.

Mentalitas Berkelimpah-ruahan atau Abundance Mentality adalah sikap mental yang memandang bahwa dunia akan memberikan kecukupan dan tidak khawatir kehabisan apabila kita mau berkerjasama dan kreatif menciptakan sinergi. Orang yang memiliki mentalitas ini biasanya berlapang hati untuk berbagi dan bekerjasama serta tidak mudah menyerah untuk berusaha bersama.

Abundance Mentality dapat pula diartikan sebagai sikap ‘Legowo’, luas hati, gemar berbagi (sharing), dan suka melayani demi membahagiakan orang lain karena hal itu akan membuat dirinya juga bahagia. Mereka senantiasa berpikir “dan” bukan “atau” bahkan untuk pilihan-pilihan yang bersifat paradoksal sekalipun, karena mereka berani bersusah payah mencari solusi gabungan dari hal-hal yang berlawanan itu. Memilih atau berarti membuang yang lain, meniadakan kemungkinan mencari solusi ketiga yang bersifat sinergis. Memilih dan berarti harus berupaya memadukannya menjadi sesuatu yang baru, secara kimia menjadi zat baru yang berbeda dari unsur-unsur pembentuknya.

Sebaliknya adalah “scarcity mentality” atau mentalitas berkelangkaan yang dalam bahasa dan budaya Jawa digambarkan sebagai mental kere, yakni sikap mental yang memandang dunia ini langka, penuh kekurangan dan tidak pernah cukup, sehingga agar kebagian saya harus lebih dahulu merebutnya. Saya harus mendahului yang lain biarpun harus melanggar aturan yang ada. Persetan dengan akibat yang ditimbulkannya sekalipun akan membawa kekacauan atau kerugian pada orang lain.

Sebenarnya bukan dunia ini yang langka, tetapi pikiran dan hati manusia itu yang langka daya pikir dan kreativitasnya. Bukankah untuk memperoleh pendapatan yang tinggi kita tidak perlu menebang jutaan hektar hutan untuk hanya menjual gelondongan kayu yang nilainya cuma 10-20% dari produk jadinya. Bukankah produk jadi itu dapat didaur ulang untuk mengurangi konsumsi kayu gelondongan atau bahkan saat telah menjadi sampahpun dapat diolah menjadi pupuk yang mempercepat tumbuhnya pohon-pohon baru. Atau, daripada mengambil kayu gelondongan, bukankah lebih untung menemukan dan memanfaatkan beribu jenis zat-zat berharga bagi pengobatan, kosmetika dan lain-lain dari tetumbuhan ikutan yang terdapat berlimpah didalam hutan dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada kayu gelondongan itu.

Mental kere, adalah mentalitas anak berumur 2 tahun. Karakter mereka dapat disimpulkan dengan dua kata : “Saya dulu!”. Semua berpusat pada ‘saya’. Sifat alamiah manusia ini memang lucu dan menggemaskan untuk si balita, tetapi sangat tidak lucu, norak serta menjengkelkan jika masih dimiliki oleh orang ‘dewasa’ yang selalu datang dengan “kebutuhanku, ideku, mau saya, keinginanku, pokoknya aku, saya, gue, beta, awak”.

Agar lebih memudahkan pemahaman, tabel dibawah ini menyajikan perbedaan sikap dan perilaku antara Mental Berkelimpah-ruahan dengan Mental Kere.

Dapat diperiksa bahwa perbedaan keduanya bersifat bertolak belakang atau berlawanan. Jelas juga terlihat bahwa Mental Berkelangkaan selalu berkonotasi negatif sedangkan sebaliknya, mentalitas Berkelimpah-ruahan berhubungan dengan hal-hal yang positif.

Sumber : SOBAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: