NLP MODEL

11 Mar

Jika Anda ingin membangun sebuah rumah, apa yang anda lakukan agar Kontraktor atau Tukang Bangunan dapat membangun rumah seperti yang Anda maksudkan ?

Tentu anda sepakat, salah satu cara yang mudah adalah memberi mereka denah rumah. Makin lengkap denahnya, maka makin mempermudah dan memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan.

Denah rumah adalah model mengenai rumah, bukan rumah itu sendiri. Namun demikian denah telah mampu merepresentasikan keinginan Anda agar dapat dimengerti dan ditindak lanjuti oleh orang lain sepeti yang Anda mau.

Demikian juga ketika Anda ingin pergi ke suatu wiyalah yang belum Anda kenal, maka salah satu cara mudah agar tidak tersesat adalah dengan melihat Peta wilayah tersebut.

Bagi pemilik atau pimpinan perusahaan, kadang hanya cukup membaca laporan keuangan untuk mengetahui perkembangan perusahaannya. Dalam hal ini laporan keuangan juga model untuk merepresentasikan kondisi perusahaan.

Dalam dunia teknologi dan industri, tentu akan lebih banyak lagi bentuk pemodelan yang dapat Anda temui. Baik pemodelan yang bersifat matematis dalam bentuk formula atau rumus, grafis, sampai dalam bentuk penjabaran teknis seperti user manual.

Secara umum Model dapat diartikan :
A miniature representation of a thing”. Atau dapat dipahami sebagai “Peta yang merepresentasikan suatu Domain atau Teritori”.

Sebuah model tentu dibuat dengan maksud dan tujuan tertentu. Karena itu domain yang sama dapat dibuat model yang berbeda, tergantung tema dan konteks yang akan direpresentasikan.

Terus bagaimana jika Teritorinya adalah Manusia itu sendiri ?

Tentu saja sama !  Dibuat model agar lebih mudah memahaminya !

Seperti yang ditulis dalam sejarah NLP, bahwa NLP ditemukan oleh Bandler dan Grinder berdasarkan hasil penelitian karena rasa penasaran terhadap tiga orang terapis hebat yaitu Fritz Perls, Virginia Satir & Milton H. Erickson yang dapat merubah prilaku Clientnya hanya melalui proses komunikasi.

Bandler tentu penasaran, karena kalau diamati secara biasa sepertinya ketiga orang tersebut berkomunikasi sebagaimana layaknya orang berkomunikasi. Cara berbicara dan bahasa yang digunakanpun bahasa manusia bukan bahasa planet ataupun bahasa makhluk-makhluk asing lainnya.

Karena mereka adalah terapis-terapis yang hebat dan professional, tentu perubahan yang dialami oleh client-clientnya bukanlah sebuah proses kebetulan. Pasti semua itu dilakukan secara sengaja dengan pola dan struktur komunikasi tertentu (baik verbal maupun non verbal) yang diharapkan dapat menciptakan perubahan kearah tertentu pula.

Setelah diamati dan diteliti, ternyata benar !

Bahasa verbal mereka ternyata memang memiliki pola dan struktur tertentu. Pemilihan katanya, cara penyusunannya, intonasinya, temponya, dll dibuat sedemikian rupa sehingga memberi efek atau pengaruh kepada lawan bicaranya. Demikian pula dengan bahasa non verbalnya seperti bahasa tubuh, mimik atau gerak-geriknya juga dibuat sedemikian rupa dan disesuaikan dengan konteks serta kondisi dari lawan komunikasinya.

Yang menarik adalah ketiganya memiliki pola atau model komunikasi yang sangat berbeda, tapi semuanya dapat menghasilkan suatu pengaruh perubahan ke arah yang sama.

Hal ini justru mengarahkan Bandler & Grinder untuk melakukan penelitian lebih jauh lagi untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Berbagai fakta dari pengamatannya seperti bagaimana manusia merespon suatu objek atau kejadian yang berbeda dengan respon yang sama, atau sebaliknya sebuah objek dan dunia yang jelas-jelas sama direspon dan dipahami berbeda. Hal ini membuat timbulnya berbagai pertanyaan dalam benaknya.

Bagaimana sih proses manusia dalam memahami dunia eksternal, dan bagaimana pula pikiran atau otak manusia menyimpan dan mengkodekan berbagai pengalaman, pengetahuan dan informasi  yang diterimanya dari dunia luar ?

Lantas bagaimana manusia merepresentasikan, merespon atau bertindak atas berbagai pengalaman, kejadian atau informasi yang datang dari dunia luar tersebut ?

Penelitiannya membuahkan hasil berupa sebuah pemahaman yang dituangkan kedalam sebuah model yang akhirnya dikenal sebagai NLP Model yang digambarkan sebagai berikut :

Dari gambar tersebut tampak bahwa bagaimana proses kita secara umum dalam memahami dan merespon terhadap dunia luar. Berbagai input berupa pengalaman, kejadian, infromasi atau data, kita serap melalui Panca Indra yang dalam NLP disebut sebagai Sensory Modalities.  Pengalaman yang kita serap atau terima dari dunia luar dapat berupa data gambar (Visual), suara (Auditory), sentuhan (Kinesthetic), rasa (Gustatory) dan bau-bauan (Olfactory) yang semua itu biasa disingkat VAKGO. Tentu begitu banyak pengalaman yang masuk secara berkelanjutan sejalan dengan perjalanan waktu dan aktivitas kehidupan.

Dari pengamatannya, disadari atau tidak dalam proses penerimaan informasi tersebut, ternyata kita telah melakukan Penyaringan (Filter) atas input VAKGO yang masuk. Dalam proses filter bisa terjadi Penghapusan (Deletion) terhadap hal-hal yang mungkin kita anggap tidak penting. Bisa juga melakukan perbandingan dengan bebagai pengalaman sebelumnya sehingga bisa terjadi proses Generalisasi (Generalization) & Penyimpangan (Distortion) terhadap fakta-fakta yang ada. Adapun yang mempengaruhi proses filter ini antara lain adalah beliefs system, self image, logika/penalaran, focus, minat dll.

Data VAKGO yang masuk setelah mengalami filter tersebut berproses secara internal kemudian membentuk Internal Map yang tersimpan dalam memory atau otak kita. Internal Map inilah yang berpengaruh terhadap Fisiologi dan keadaan atau “state of being” kita, yang kemudian berpengaruh terhadap berbagai Persepsi, Tindakan dan Prilaku kita yang kita representasikan dalam bentuk Verbal maupun Nonverbal.

Hal mendasar dari model ini adalah peran Sentral dari Internal Map yang mempengaruhi dan menentukan bagaimana manusia merespon atau bertindak terhadap  berbagai kejadian yang dialaminya. Dan yang perlu diperhatikan bahwa model tersebut tentu tidak berjalan searah, tapi bisa terjadi hubungan secara timbal balik maupun bisa juga berjalan secara bersamaan.

Dari ilustrasi diatas jelas bahwa terjadinya proses filter (Deletion, Generalization & Distortion) berakibat bahwa Informasi VAKGO yang tersimpan dan membentuk Internal Map dalam memory atau otak kita menjadi Tidak Lengkap bahkan bisa benar-benar Berbeda dengan Fakta atau Realitanya. Tentu saja hal ini dapat mengakibatkan kerugian, namun juga bisa berakibat menguntungkan.  Hal ini tentu akan sangat menarik untuk dibahas pada tema lainnya.

Setiap orang hampir dapat dipastikan berbeda dalam memfilter setiap pengalaman atau informasi yang masuk, karena itulah kenapa orang bisa berbeda dalam merespon atau memaknai suatu kejadian atau object yang sama. Hal lain yang mempengaruhi Kwalitas maupun Akurasi dari informasi VAKGO yang masuk adalah Kondisi dari Sensory Modalities itu sendiri.

Terus apa yang bisa dilakukan dan manfaat yang bisa dipetik dari memahami model NLP ini ?

Spirit dari model ini menurut saya bersifat universal. Walaupun model ini dibuat oleh Bandler dari hasil modelling komunikasi, tapi juga dapat diimplementasikan dalam konteks yang lebih luas untuk memahami berbagai fenomena-fenomena yang berhubungan dengan perilaku manusia termasuk keilmuan-keilmuan tradisi sekalipun dengan berbagai ritualnya.

Tentu saja dalam pembahasan NLP, sesuai dengan namanya maka pembahasannya lebih menekankan pada aspek-aspek komunikasi verbal maupun non verbal pada sisi inputnya.

Model ini telah menginspirasi banyak lahirnya Turunan Model dengan berbagai Metodologi dan Teknik yang dimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

  • Berdasarkan pemahaman bahwa Internal Map merupakan Sentral, dimana proses terbentuknya dapat dilakukan secara sengaja dan diarahkan untuk menghasilkan reaksi tertentu, maka telah lahir Metodologi dan Teknik-Teknik dalam Bidang Pemberdayaan Diri seperti Motivasi, Pembinaan dan Pengajaran (Coaching, Teaching dan Parenting), dll.
  • Karena orang bisa bereaksi terhadap suatu obyek atau kejadian berdasarkan gambaran yang ada internal mapnya, bukan atas dasar fakta mengenai obyek atau kejadian tersebut, maka seringkali banyak orang memiliki masalah seperti stress, trauma dan phobia terhadap suatu obyek atau kejadian disebabkan karena obyek atau kejadian tersebut tergambar jelek atau negatif dalam peta internalnya. Hal ini memberikan inspirasi lahirnya Teknik Terapi dengan merubah internal mapnya.
  • Karena orang bereaksi atas dasar internal mapnya, dimana reaksi ini direpresentasikan dengan bahasa verbal maupun non verbal, maka kita dapat mengenali internal map sesorang dari pola bahasa yang digunakannya. Dengan pemahaman ini tentu dapat diimplementasikan dalam bidang yang lebih luas lagi. Tidak hanya dalam bidang Pemberdayaan Diri dan Terapi, tapi juga dalam Bidang Management, Bisnis, Selling, Forensik dll.

Tentu masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan dan dikembang dari model ini. Begitu banyaknya yang bisa dilakukan dan manfaat yang bisa dipetik dari NLP model ini, sehingga banyak sekali pendapat dari para pakar NLP mengenai definisi dari NLP, antara lain :

  • Sebuah studi mengenai struktur dari pengalaman subyektif.
  • Strategi belajar yang dipercepat untuk mendetiksi dan memanfaatkan pola-pola yang ada didunia. (John Grinder)
  • Apapun yang bisa menghadirkan kesuksesan. (Robert Dilts)
  • Sikap mental dan metodologi yang ada dibalik segenap teknik yang efektif. (Richard Bandler).
  • Pengaruh yang ditimbulkan oleh bahasa terhadap pikiran dan prilaku manusia.
  • Sebuah metode untuk melakukan modeling terhadap sebuah kesempurnaan sehingga dapat diduplikasi.
  • Menawarkan sebuah model untuk mengenali kesempurnaan dan proses untuk memunculkannya setiap saat. (Bob G. Bodenhamer dan L. Michael Hall)
  • Petunjuk manual bagi penggunaan otak.  (“A user’s manual for the brain”).

NLP model menurut saya masih sangat mungkin untuk dikembangkan & disempurnakan. Banyak  hal dalam setiap bagian dari rangkaian prosesnya juga masih memerlukan pembahasan lebih lanjut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Tentu masih banyak PR bagi para Pakar, Praktisi, Pemerhati, Pencinta, Penggemar atau apapun namanya untuk mengeksplorasi lebih jauh atas model ini. Perlu diingat bahwa, baik Bandler maupun Grinder dalam membuat model ini berproses sama seperti yang digambarkan dalam model ini. Sehingga dapat dipastikan juga Melakukan Deletion, Generalization & Distortion atas berbagai fakta teritorinya.

Tentu sangat disayangkan jika Pengetahuan Sehebat dan Sebagus NLP ini tidak disebar luaskan ke masyarakat luas, khususnya Indonesia agar lebih Berdaya !

sumber : neonlp.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: