The Four Pillars

11 Mar

Pada sebuah bangunan, pilar merupakan salah satu bagian sangat penting yang menjadi penopang utama agar dapat berdiri dan kokoh. Bahkan ketika terjadi gangguan seperti adanya bencana alam pada skala tertentu, jika qualitas dan teknik pemasangan pilarnya baik dan benar, maka bangunan tersebut bisa tetap berdiri kokoh dan mampu menjadi penyelamat bagi para penghuni didalamnya. Secara umum Pilar dapat diartikan sebagai Penyangga atas Beridirinya Sesuatu.

“A user’s manual for the brain”. Demikian salah satu definisi dari NLP. Dari definisi ini jelas bahwa NLP merupakan pengetahuan yang memiliki cakupan yang sangat luas serta bersifat netral dalam rangaka mengutak-atik atau rekayasa manusia khususnya dalam bidang psikologi dan perilakunya. Namun dalam perkembangannya NLP justru lebih populer dikenal sebagai Teknik Komunikasi Persuasif dan Psikologi Terapan, yang banyak diimplementasikan pada bidang Pemberdayaan Diri dan Terapi (Penyembuhan). Dalam bidang Pemberdayaan Diri NLP telah melahirkan serangkaian Metodologi dan Teknik untuk Peningkatan Performa atau Ekselensi Seseorang. Demikian juga halnya dalam bidang Terapi, NLP mengembangkan berbagai Teknik yang sangat Efektif untuk menangani berbagai permasalahan yang tekait dengan psikologis seperti Trauma dan Phobia. Walaupun akhir-akhir ini aplikasi NLP juga merambah pada bidang-bidang lainnya seperti bisnis dan managemen.

Sebagai metodologi dan teknik, tentu NLP tidak hanya dimaksudkan untuk membantu orang lain, tapi  penerapan dan pemanfaatan untuk diri sendiri bagi para praktisi justru sangat diutamakan. Dengan teknik NLP, diharapkan seseorang tidak hanya dapat mengetahui dan menyadari berbagai faktor yang menjadi penghambat dalam pencapaian tujuan, tapi yang lebih penting lagi adalah mengetahui bagaimana cara mengatasinya. Baik itu hambatan yang  berasal dari diri sendiri seperti adanya perilaku dan kondisi mental yang tidak mendukung, maupun yang disebabkan oleh faktor kondisi hubungannya dengan orang lain.

Sebagai Psikologi Terapan, NLP tentu memiliki kerangka keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap yang secara bersama membentuk sebuah model yang menyeluruh dan sejalan. Pemikiran atas kerangka keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap  dalam NLP, sebagian besar dibangun atas dasar serangkaian Presuppositions (asumsi-asumsi yang diletakkan sebagai dasar) yang kemudian menjadi landasan bagi dibentuknya berbagai  model, motodologi dan teknik sesuai dengan konteks dan tujuannya. Namun sebelum melangkah lebih jauh untuk memanfaatkan NLP sebagai metodologi dan teknik, ada Empat Aspek Inti NLP yang harus dipahami, dimikili dan dikembangkan terlebih dahulu sebagai pijakan awal yang harus dijadikan sebagai sikap atau attitude, disamping aspek-aspek lain seperti  Presuppositions dan Neurological Levels yang menjadi pondasi, yang akan dihabas secara terpisah pada bab berikutnya. Empat aspek inti ini disebut sebagai “Four Pillars”, yaitu :

  • Outcome
  • Sensory Acuity
  • Behavioural Flexibility, dan
  • Rapport.

 

Pilar Pertama : Outcome

Apa yang Anda inginkan dalam hidup ini ? Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, bahkan mungkin sudah sangat akrab diperasaan dan ditelinga banyak orang. Namun demikian jangan-jangan banyak diantara kita yang mungkin secara sadar atau tidak, masih belum atau bahkan tidak pernah secara serius mau mempertanyakan hal ini kepada diri sendiri. Kalau ini terjadi berarti kita membiarkan diri dalam menjalani kehidupan ini tanpa mempunyai arah yang jelas dan hanya mengalir begitu saja dari waktu ke waktu, dari satu hal ke hal lain, dari satu peristiwa ke peristiwa lain, dan seterusnya. Ibarat naik taxi atau kendaraan umum lainnya, kita hanya naik begitu saja tanpa tahu kemana tujuannya, dan menyerahkan segalanya kepada sopir kemanapun akan dibawa pergi. Ongkos harus dibayar, namum demikian belum tentu kita sampai di tempat yang baik dan menyenangkan.

“Mengetahui dan menetapkan apa yang diinginkan adalah syarat pokok dari upaya untuk mendapatkan”.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali membahas mengenai petingnya memiliki tujuan, sasaran dan target yang harus dicapai. Dalam hal ini NLP menggunakan istilah Outcome atau kalau diartikan secara bebas adalah hasil yang ingin dicapai secara spesifik. Suatu metodologi dan teknik tentu dimaksudkan untuk suatu tujuan tertentu. Karena itu, outcome merupakan hal yang sangat penting sehingga NLP meletakkan Outcome sebagai Pilar Pertama yang Harus Ada. Tanpa outcome NLP tidak dapat digunakan dan tidak memiliki arti apa-apa. Sebaliknya, dengan adanya outcome yang jelas, kita bisa focus memikirkan dan mengerahkan berbagai sumber daya untuk dapat mencapai dan mewujudkannya.

Dalam dunia riil, hukum penciptaan yang dapat kita rasakan dan ketahui dimulai dari level pikiran dan mental. Karena itu adanya outcome yang jelas menjadi pijakan yang sangat penting agar kita dapat memulai menciptakannya dilevel pikiran dan mental, kemudian menjadi landasan untuk dapat menindak lanjuti dalam sikap dan perbuatan. Tanpa outcome, sudah jelas kita tidak akan pernah tahu apa yang harus dipikirkan dan dilakukan. Dengan demikian segala pikiran dan tindakan kita hanya merespon atau bereaksi atas berbagai stimulus atau aksi yang datang secara acak dalam kehidupan tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Outcome bisa berupa sesuatu yang kecil-kecil dan sederhana, yang seringkali justru bisa berbentuk aktivitas-aktivitas atau non materi, seperti misalnya berolah raga atau fitness selama satu jam, dua kali seminggu. Walaupun hal ini terlihat dan terasa sangat mudah dan sederhana, namun bagi yang belum terbiasa jika dilakukan secara baik dan konsisten dapat membuat tubuh lebih sehat. Yang sudah barang tentu hal ini bisa berakibat terjadinya perubahan-perubahan dalam berbagai aspek kehidupan yang lainya. Setiap perubahan pola sekecil apapun dapat memicu dan menghasilkan perubahan pola-pola yang lainnya. Dalam contoh ini outcome-nya adalah “berolah raga atau fitness selama satu jam, dua kali seminggu” bukan “sehat”. Sedangkan sehat hanyalah merupakan akibat yang mungkin timbul dari telah dilakukan atau dicapainya outcome. Tentu masih banyak hal-hal kecil dan sederhana lainnya yang bisa dibuat outcome, yang kadang dapat menopang sesuatu yang lebih besar. Outcome juga bisa untuk sesuatu yang lebih besar, seperti misalnya membangun usaha sendiri yang dapat memberikan penghasilan yang lebih besar sebelum pensiun pada usia 50 tahun, dll. Dalam konteks yang lebih besar seperti ini tentu membutuhkan strategi, teknik dan pemikiran yang lebih, agar hal tersebut dapat terwujud dengan baik.

Tentu kita bisa memiliki banyak outcome yang berbeda dalam berbagai aspek kehidupan dalam satuan atau jangka waktu tertentu. Outcome bisa untuk jangka pendek, menengah maupun untuk jangka panjang. Outcome bisa berdiri sendiri atau terpisah, berhubungan satu dengan yang lain, atau bahkan suatu outcome kadang hanya dimaksudkan untuk menopang terwujudnya outcome lainya. Dalam hal ini, NLP menawarkan suatu proses yang komprehensif dalam membuat, memilih, menyusun dan menyuling outcome agar outcome dapat berbentuk sebaik-baiknya atau dalam NLP disebut sebagai Well-Formed Outcome (WFO). Dengan WFO diharapkan outcome dapat tergambar secara lebih jelas dan detail sehinga lebih mudah dirasakan dan diimajinasikan, yang pada gilirannya dapat memudahkan dalam menindak lanjuti, mengevaluasi dan meningkatkan probabilitas keberhasilan pencapaiannya. Karena pentingnya WFO ini, maka akan dibahas secara lebih mendalam pada bab tersendiri.

Pilar Kedua : Sensory Acuity

Secara umum, manusia dalam memahami dunia dan kehidupan berdasarkan informasi yang diterima dari eksternal melalui alat indra (Sensory). Kemampuan, kepekaan atau ketajaman (Acuity) dari alat indra, tentu sangat berpengaruh terhadap qualitas dan akurasi dari informasi yang masuk, yang pada gilirannya tentu akan berpengaruh terhadap berbagai pengambilan keputusan, respon atau perilaku. Begitu pentingnya sensory acuity ini, sehingga NLP menempatkannya sebagai Pilar Keduanya.

Walaupun secara umum orang pasti akan menggunakan seluruh indra yang dimilikinya, namun demikian kondisi kemampuan dan kecenderunganindra orang bisa sangat beragam dalam hal apa dan bagaimana orang menyadari dunia dengan cara  melihat, mendengar atau merasakan. Ada yang sangat kuat daya observasinya serta lebih fokus terhadap apa yang tampak, ada yang kuat dan memfokuskan diri pada apa yang didengar, dan ada pula yang menonjol dan lebih memfokuskan keasadarannya ke arah pikiran dan perasaan. Profesi dan kebiasaan seseorang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap apa dan bagaimana kecenderungan sensory acuity-nya. Seperti seorang pelukis atau pekerjaan desain grafis, maka kemungkinan besar yang menonjol adalah pada bagian visualnya. Sedangkan pemusik kemungkinan yang menonjol adalah pada bagian auditory-nya. Demikian juga dengan profesi lainya tentu dituntut ketajaman terhadap bagian-bagian tertentu dari indranya, tentu saja hal ini sangat berpengaruh terhadap apa dan bagaimana ybs dalam memahami dunia.

Untuk mengetahui dan memahami apa dan bagaimana Anda dalam menyadari dunia sekitar, cobalah lakukan latihan dan test sederhana ini. Tutup mata Anda sejenak. Kemudian, gambarkan seakurat dan sedetail mungkin apa saja yang ada disekitar Anda. Apa warna dindingnya ? Warna lantainya ?  Bagaimana desain, bentuk dan warna furnitur atau berbagai perabot lainnya ? Jika ada orang lain, mereka mengenakan jenis pakaian dan warnanya apa ? Bagaimana cara mereka berjalan dan gaya bicaranya ?  Dllnya. Latihan visual sederhana ini dapat mengungkapkan fakta bahwa kita seringkali tidak menyadari, mengetahui atau bahkan mungkin mengabaikan berbagai hal yang ada disekitar kita, sehingga informasi yang masuk menjadi tidak lengkap. Tentu Anda bisa melakukan test dan latihan terhadap indra yang lainnya.

Berusaha melatih meningkatkan sensory acuity merupakan hal yang penting dalam NLP. Dengan sensory acuity yang baik maka seseorang akan sadar terhadap berbagai hal yang terjadi disekitarnya dengan baik pula, sehingga informasi yang dapat diterima menjadi lebih lengkap dan akurat. Dengan demikian maka segala respon dan tindakan yang dilakukan menjadi lebih terarah pada outcome yang ingin dicapai.

Pada tahap lebih lanjut, khususnya dalam proses hubungan komunikasi, baik komunikasi antar personal sampai ke komunikasi yang melibatkan orang banyak atau publik, sensory acuity dapat berfungsi sebagai radar, alat ukur atau kalibrasi terhadap respon dari  lawan komunikasi. Dengan sensory acuity yang baik kita jadi mengetahui dan merasakan apakah pesan, maksud dan tujuan dari komunikasi yang kita lakukan sudah dapat diterima dengan baik dan sesuai yang kita harapkan. Hal ini dapat dilihat, didengar dan dirasakan dari  respon atau ekspresi dari mereka yang kita ajak berkomunikasi. Dengan demikian kita jadi mengetahui dan menyadari apakah teknik komunikasi yang kita lakukan sudah benar atau tidak, sekaligus menjadi umpan balik (feedback) dalam pengambilan keputusan berikutnya. Hal ini sesuai dengan salah satu presuposisi dari NLP yaitu “The meaning of the communication lies in the response you get”. Dan ini hanya dapat dipahami jika memiliki sensory acuity yang baik.
Dengan kata lain, Sensory Acuity berfungsi sebagai radar untuk mengetahui dan merasakan apakah yang kita lakukan sesuai dengan Outcome yang ingin dicapai.

Pilar Ketiga : Behavioural Flexibility

Jika Anda ingin membuka kunci sebuah pintu dengan anak kunci, dan ternyata kunci pintu tersebut tidak dapat dibuka, maka cobalah ganti dengan anak kunci yang lain untuk membukanya. Anda tidak bisa memaksa membuka dengan anak kunci yang sama. Tentu masih banyak contoh lain dalam kehidupan sehari-hari yang dapat menggambarkan secara baik apa arti fleksibelitas serta apa manfaat dan pentingnya dari sikap fleksibel itu. Begitu pentingnya sikap fleksibel ini, sehingga NLP menempatkannya sebagai salah satu pilar yang harus dimiliki bagi mereka yang ingin benar-benar menggunakan NLP sebagai sebuah metodologi dan teknik dalam pencapaian outcome.

Outcome sebagai pilar pertama dan sensory acuity pada pilar kedua, maka kedua pilar tersebut dapat berfungsi sebagai “lingkaran umpan balik” yang sangat penting. Setelah outcome ditetapkan, maka sebagai konsekwensinya apapun yang Anda lakukan tentu harus mengarah pada terwujudnya outcome. Disinilah salah satu peran dan fungsi dari sensory acuity untuk mendetiksi apakah feedback dari yang Anda lakukan sudah sejalan dengan outcome yang ingin dicapai. Apabila ternyata feedback yang muncul tidak sesuai atau bahkan mungkin berlawanan dengan outcome, ini berarti bahwa cara yang Anda lakukan adalah tidak benar atau salah. Walaupun sebelumnya Anda telah merancang sebaik-baiknya, dan bahkan mungkin saat itu Anda merasa bahwa cara tersebut adalah yang terbaik dan benar. Disinilah pentingnya adanya sikap fleksibel, yaitu dengan sadar dan berani melakukan revisi atau perubahan atas cara dan strategi sampai outcome dapat tercapai dengan baik. Walaupun hal ini tampak dan terasa sederhana serta mundah dimengerti, namun demikian dalam praktek kehidupan sehari-hari seringkali kita jumpai banyak orang yang begitu sangat kaku dan memaksakan kehendak dan cara, padahal sudah terbukti bahwa sikap dan cara mereka tidak memberikan hasil yang baik sesuai harapan.

“Jika cara yang Anda lakukan tidak berhasil, lakukan cara lain saja”. Demikian salah satu presuposisi NLP. Tentu Anda setuju, adalah sangat naif jika mengharapkan hasil yang berbeda dengan pola atau cara yang sama. Tentu Anda sendiri pasti memiliki pengalaman-pengalaman menarik yang dapat dipetik hikmahnya terkait dengan sikap fleksibel ini. Begitu pentingnya sikap fleksibel dalam NLP, hal ini bisa kita lihat dari presuposisi NLP lainnya yang terkait dengan sikap fleksibel ini yaitu  “Dalam sistem, Orang yang paling fleksibellah yang akan mengontrol”.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita temui orang-orang yang secara alamiah dan mungkin karena pengaruh dan tuntutan lingkungan memiliki sikap yang fleksibel. Karena itu sikap fleksibel seringkali dikaitkan dan dipahami sebagai suatu “sifat” yang melekat pada diri seseorang yang dibawanya sejak lahir ataupun faktor keturunan. Namun dalam konteks ini NLP menjadikan sikap fleksibel (Behavioural Flexibility) sebagai salah satu Pilarnya, maka secara tidak langsung NLP telah mengkonversinya dari sifat menjadi Kata Kerja dan Skill (keterampilan) yang harus dimiliki untuk mencapai suatu tujuan (outcome). Dengan demikian fleksibelitas menjadi suatu pilihan yang sulit untuk dihindari bagi mereka yang ingin sukses menerapkan metodelogi NLP. Inilah salah satu bentuk kecerdasan dari metode dan teknik NLP. Tentu masih banyak lagi bentuk-bentuk kecerdasan lainnya, sehingga kalau dipelajari dan diikuti dapat membawa perubahan-perubahan paradigma yang tentu saja dapat membuat kehidupan lebih dinamis, indah, menyenangkan dan memberdayakan. Itulah mungkin tujuan dari NLP.

Pilar Keempat : Rapport

Dalam kehidupan sehari-hari, adanya interaksi atau hubungan dengan orang lain tentu sulit atau bahkan tidak mungkin dihindari. Hanya saja intensitas, jumlah atau frekwensinya setiap orang bisa berbeda-beda. Tentu banyak faktor yang mempengaruhinya seperti profesi, kepentingan, sifat, hobi, dan lain-lainnya. Karena itu adanya hubungan yang baik dengan orang lain menjadi sangat penting demi kelancaran aktivitas-aktivitas yang kita lakukan, yang pada gilirannya  akan memudahkan dalam pencapaian outcome.

Hubungan yang baik adalah sebuah hubungan yang dapat menghasilkan rasa dekat, nyaman dan saling percaya, karena hal ini merupakan dasar dan alasan yang sangat kuat bagi seseorang untuk melakukan dan memberikan sesuatu kepada orang lain. Bahkan jika kondisi kedekatan, kenyamanan, kepercayaan dari hubungan tersebut mencapai titik tertentu, maka orang dapat melakukan apapun yang kadang bisa sampai melewati batas-batas norma, nilai dan resiko. Hubungan yang baik tersebut dalam NLP disebut Rapport.

Rapport dapat diibaratkan seperti lem atau perekat yang dapat menyatukan dua benda yang berbeda atau terpisah. Rapport juga dapat digambarkan sebagai sebuah Jembatan yang menghubungkan dua tempat yang terpisah agar dapat dicapai dengan mudah, cepat dan aman.

Dalam kehidupan hampir dapat dipastikan setiap orang ingin meraih Sukses. Walaupun tentu saja setiap orang bisa memiliki perbedaan pendapat, pengertian dan ukuran tersendiri mengenai sukses itu. Apapun pendapat Anda mengenai sukses sudah pasti benar adanya, karena hal itu mewakili yang Anda inginkan dalam hidup ini dan tentu saja tidak perlu diperdebatkan.

Secara umum, Sukses dapat diartikan sebagai Perwujudan dari gabungan tercapainya berbagai Outcome dalam berbagai aspek Kehidupan. Dan satu hal yang hampir dapat dipastikan bahwa dalam proses untuk dapat meraih kesuksesan tersebut sulit dan kecil kemungkinnya dapat dilakukan sendiri tanpa adanya kerja sama, bantuan, keterlibatan dan peran dari orang lain di dalamnya. Karena itu adanya rapport menjadi sangat penting bahkan bisa dikatakan mutlak bagi mereka yang ingin meraih kesuksesan dalam kehidupan ini. Karena itulah maka NLP menempatkan rapport sebagai salah satu pilarnya.

Seperti halnya behavioural flexibility, Rapport juga harus dijadikan sebagai suatu Sikap (Attitude) sekaligus Keterampilan (Skill) yang harus dimiliki oleh para praktisi NLP yang benar-benar menginginkan kesuksesan dalam hidup ini. Walaupun banyak orang yang secara alamiah memiliki kemampuan rapport yang baik, namun dalam NLP rapport dianggap bukanlah sesuatu yang bersifat alamiah. Rapport merupakan sesuatu yang dapat dan harus diraih, dipelajari dan dilatih sampai menjadi suatu attitude dan skill. Begitu pentingnya rapport ini, maka NLP secara khusus membuat berbagai teknik bagaimana cara membangun rapport (building rapport) yang dapat diikuti pada pembahasan berikutnya.

Dalam praktek kehidupan sehari-hari, tentu hubungan masing-masing pilar ini tidak bersifat searah, tapi bisa timbal balik sesuai kondisi dan konteksnya. Adanya hubungan yang baik dan juga sensory acuity bahkan bisa memunculkan ide-ide baru yang mungkin saja lebih baik dan segar. Kalau kita memiliki sikap fleksibel dan terbuka (open mind), maka bisa jadi hal ini dapat merubah ataupun menambah outcome. Demikian seterusnya.

 

Dalam kehidupan ini jika Anda ingin mendapatkan sesuatu,sekecil apapun itu,  pasti ada Syarat dan ketentuannya yang mengaturnya.

Seperti halnya jika Anda ingin mendapatkan hadiah lotre atau undian maka Anda harus membeli atau mendapatkan nomornya.

Demikian juga jika Anda ingin “Sukses” dengan menggunakan metode dan teknik NLP, maka Empat Pilar NLP ini harus dimiliki dan dikuasai sebagai Attitude dan Skill-nya.

sumber : neonlp.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: