Well-Formed Outcome

11 Mar

Dalam momen-momen tertentu seperti saat Hari Raya, Natal, Tahun Baru, dll biasanya banyak diantara kita membuat daftar keinginan atau janji-janji yang akan dijadikan sebagai sasaran atau tujuan, yang kita coba untuk dilakukan atau diraih. Namun demikian seringkali pula banyak diantara daftar janji-janji tersebut berlalu begitu saja dan hanya menjadi dokumen dalam buku agenda atau database dalam memory kita yang tidak pernah terwujud dan bahkan mungkin tidak pernah kita laksanakan.

Pernahkan kita secara serius mempertanyakan serta mencari tahu berbagai kemungkinan yang menjadi penyebab kenapa hal tersebut bisa terjadi ? Mungkin saja masing-masing dari kita telah memiliki banyak alasan pembenarnya. NLP menawarkan konsep yang komprehensif sebagai alternatif yang dapat dijadikan rujukan dalam menyusun berbagai tujuan atau target, yang diharapkan dapat memperjelas sehingga tujuan atau sasaran yang dibuat, dapat lebih mudah diraih dan dilaksanakan dengan baik. NLP menggunakan istilah “outcome” untuk memperkuat dan mempertajam goal (sasaran) atau objective (tujuan).

Perbedaan antara goal dengan outcome mungkin tidak terlalu jelas, bahkan dalam konteks tertentu goal dengan outcome bisa sama dalam bentuk maupun arti. Dalam sebuah Kamus Bahasa Inggris “Outcome” diterjemahkan sebagai “something that follows actions; a result or consequence”.  Kalau diterjemahkan secara bebas, Outcome adalah sesuatu yang mengikuti dan mendorong adanya berbagai tindakan, hasil dan atau konsekuensi”. Sedangkan goal merupakan sesuatu yang kita inginkan (Something that we want).

Outcome bisa merupakan sesuatu yang harus dihasilkan atau dilakukan sebagai konsekuensi dari apa yang diinginkan. Dengan demikian, outcome belum tentu sesuatu yang diinginkan, dan bisa jadi outcome hanya merupakan sesuatu yang menjadi kaki-kaki yang menopang sesuatu yang lebih besar dari apa yang kita inginkan untuk dicapai, baik secara langsung atau tidak. Dalam NLP dikenal juga adanya “desired outcome” untuk menggambarkan outcome yang sangat diupayakan untuk terwujud. Desired outcome merupakan bagian yang sangat penting dan sentral, yang melandasi berbagai teknik untuk dapat mewujudkannya.

Bagi Anda yang pekerja keras dan memiliki kesibukan yang padat, kemungkinan akan mengalami stress atau kejenuhan tentu lebih besar. Demikian juga dengan waktu dan frekwensi untuk berinteraksi dengan keluargapun kadang menjadi lebih sedikit dan jarang, sehingga hal ini dapat mengganggu harmoni dan qualitas hubungan keluarga. Karena itu refreshing dan hal-hal yang dapat memilihara dan menjaga harmoni hubungan keluarga menjadi sangat penting untuk diupayakan dan dilakukan.

Tentu banyak hal yang dapat dilakukan untuk refreshing dan menjaga harmoni keluarga, namun demikian ada baiknya Anda merencanakan dan menetapkan secara jelas dalam bentuk materi atau aktivitas riil yang dapat ditindak lanjuti. Mungkin Anda dapat memilih bepergian bersama keluarga ke suatu tempat wisata seperti ke Bali ataupun tempat-tempat lain, baik di dalam negeri maupun luar negeri sesuai dengan kondisi, kemampuan dan berbagai pertimbangan lainnya.

Dalam konteks seperti diatas, refreshing dan harmoni keluarga merupakan tujuan yang ingin Anda capai, sedang pergi ke tempat wisata bersama keluarga adalah outcomenya. Mendefinisikan dan menetapkan secara jelas dan serius apa yang akan dilakukan dan dicapai sebagai outcome merupakan bagian yang sangat penting. Walaupun hal ini terdengar sederhana, namun bila dicermati ternyata melibatkan banyak hal didalamnya yang berpengaruh terhadap berbagai kemungkinan apa yang akan Anda lakukan dan apa yang akan Anda alami berikutnya.

Tentu Anda bisa membayangkan berbagai konsekuensi yang timbul ketika Anda secara serius menetapkan “bepergian ke tempat-tempat wisata bersama keluarga ”sebagai “outcome”, seperti :

  • Sinkronisasi waktu libur Anda dengan waktu libur anggota keluarga.
  • Kalau Anda termasuk orang yang demokratis, maka perlu adanya kesepakatan terhadap tempat wisata yang akan dikunjungi sehingga semua keluarga bisa menikmatinya.
  • Kalau faktor biaya masih merupakan salah satu kendala, maka Anda juga harus memikirkan bagaimana mendapatkan dan menyisihkannya.
  • Mengatur kemungkinan berbagai acara atau tempat-tempat tertentu yang akan dilakukan dan dikunjungi sesuai jangka waktu dan biaya yang ada. Dan tentu masih banyak lagi.

Tentu hal tersebut menjadi penting untuk diperhitungkan, jika Anda menginginkan outcome tersebut dapat terwujud dan tujuan untuk refreshing serta menjaga harmoni keluargapun dapat terpenuhi.

Dan satu hal yang penting diketahui bahwa begitu suatu outcome dibuat dan ditetapkan secara jelas dan serius, maka disadari atau tidak, pikiran Anda akan focus bekerja dan mempengaruhi perilaku serta berbagai kejadian yang mungkin Anda alami yang mengarah pada terwujudnya outcome tersebut. Karena itu NLP menganggap petingnya membentuk suatu outcome yang baik, sehingga dapat ditindak lanjuti dan tingkat pencapaiannya dapat diukur secara jelas. Outcome yang demikian dalam NLP disebut Well Formed Outcome.

Mungkin saja berbagai keinginan Anda selama ini seringkali tidak tercapai karena keinginan atau tujuan tersebut terbentuk secara acak serta tidak tergambar secara baik dan spesifik, sehingga pikiran tidak dapat focus membantu mewujudkannya.  Dalam NLP, outcome seperti ini disebut sebagai “ill-formed outcome”.

Dalam dunia bisnis dan motivasi, dikenal istilah SMART yang merupakan singkatan dari Specifik (spesifik), Measurable (terukur), Achievable (bisa diraih), Realistic (masuk akal) dan Time-bound (pas waktu), untuk mempertajam goal (tujuan). Tentu saja hal ini sangat baik untuk dijadikan referensi. Namun demikian masih banyak yang menganggap belum jelas dan detail. Karena itu NLP membuat sebuah rumusan untuk lebih mempertajam dan memperjelas lagi dengan menggunakan istilah Well Formed Outcome dengan serangkaian kriteria atau syarat-syarat yang dirancang untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan suatu outcome. Syarat-syarat tersebut adalah :
1. Nyatakan Outcome Dengan Istilah atau Pernyataan Positif

Apa yang terjadi jika saya mengatakan kepada Anda, “Jangan Mikir Monyet Ya !” atau “Anda Bukan Monyet Yang Terdidik Lho”. Bisa jadi gambar atau image monyet justru ada dalam benak Anda, dan mungkin juga diikuti berbagai reaksi atau perasaan yang terkait mengenai persepsi Anda tentang monyet. Masih banyak ditemui, orang mengekspresikan keinginannya dalam suatu bentuk pernyataan negatif, seperti “Saya ingin tidak takut lagi kegelapan”, “Saya ingin tidak nervous atau tidak grogi lagi saat presentasi atau berbicara di depan umum”, “Saya ingin tidak membeci si A”, “Saya ingin tidak gemuk lagi”,dan tentu masih banyak lagi contoh pernyataan negatif lainnya. Kata-kata seperti “tidak”, “bukan”, “jangan”, dan sejenisnya menunjukan sifat negatif dari suatu pernyataan.

Saat proses membaca atau mendengar suatu pernyataan, tentu otak atau pikiran akan menerima dan memasukkannya secara keseluruhan setiap unsur dan image yang ada terlebih, baru kemudian diterjemahkan maksudnya. Karena itu, ketika ada pernyataan “tidak membenci”, “tidak takut”, atau “tidak grogi”, justru image benci, takut atau grogi muncul dipikiran, walaupun ada kata “tidak” sebelumnya. Image tersebut dapat mestimulasi munculnya rasa dimaksud, sehingga bisa jadi kata “tidak” justru dapat memberikan penekanan atau focus akan image yang dimaksud. Padahal itu yang harus dihindari.

Kata “tidak” tidak selalu menghasilkan lawan yang dimaksud, seperti tidak ke utara belum tentu ke selatan, tidak sakit belum tentu sehat seperti yang dimaksud. Demikian seterusnya. Karena itu sebaiknya pernyataan tersebut dibuat dengan pernyataan positif atau langsung pada kondisi yang dimaksud seperti “Saya ingin percaya diri saat presentasi atau berbicara didepan umum”, “Saya ingin berani dalam kegelapan”, “Saya ingin sekali langsing”, “Saya ingin menjalin hubungan baik dengan si A”, dan seterusnya. Tentu saat Anda mengatakan pernyataan tersebut, juga diikuti oleh image yang dimaksudkan. Image ini selanjutnya dapat menstimulasi timbulnya rasa serta merangsang Anda untuk melakukan sesuatu yang mengarah pada perubahan yang dimaksud.

Pernyataan negatif juga membuat otak berpikir lebih banyak minimal dua kali. Setelah berpikir akan sesuatu yang dihindari, kemudian “memikirkan cara untuk menghindari atau membatalkannya”, “memikirkan lawan atau sesuatu yang ingin dicapai” dan kemudian “memikirkan bagaimana cara mencapainya”. Karena itu hal ini dapat menyebabkan otak lebih lelah. Walaupun mungkin tidak setiap orang bereaksi seperti yang digambarkan diatas, namun demikian NLP tentu sudah mempertimbangkan dan melakukan berbagai penelitian atas hasil yang didapatkan dengan pernyataan negatif maupun positip tersebut sehingga mengambil sauatu kesimpulan bahwa “outcome sebaiknya berbentuk pernyataan positif” sehingga otak dan pikiran dapat bekerja lebih focus terhadap apa yang ingin dicapai.

Bisa saja Anda menganggap bahwa mengubah pernyataan dari negatif menjadi positif seperti hanya sekedar permainan kata-kata belaka. Namun demikian dari pengalaman, bila Anda mencoba membiasakan diri dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam berkomunikasi, baik saat berkomunikasi dengan orang lain maupun komunikasi internal (self talk) untuk selalu menggunakan pernyataan-pernyataan dalam bentuk positif, maka Anda akan merasakan dampak psikologis maupun fisik yang sangat signifikan. Dan Anda bisa mulai mencoba dan membuktikannya !

2. Pastikan Suatu Outcome Berada Dalam Jangkauan Kontrol Anda

Sebagai orang tua, adalah wajar jika menginginkan Putra atau Putrinya Pintar dan Rajin Belajar, bahkan menjadi Juara atau Ranking Satu di sekolahnya. Namun demikian dalam NLP, keinginan agar Anak Pintar dan Rajin Belajar tidak tepat untuk dijadikan outcome ! Karena dalam konteks ini, outcome masih belum sepenuhnya menjadi kontrol Anda, tapi masih dibutuhkan adanya peran atau kontrol dari orang lain, yaitu Anak Anda. Terlebih lagi jika yang Anda diinginkan adalah menjadi Juara atau Ranking 1 di sekolahnya, tentu peran atau kontrol dari orang lain akan lebih banyak lagi seperti para Guru dan juga teman-temannya yang menjadi pesaingnya. Kalau hal ini tetap dipaksakan untuk dijadikan outcome maka tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan adanya masalah atau konfik antara anak dan orang tua, yang justru menjauhkan dari tujuan.

Mungkin untuk maksud diatas, yang dapat dijadikan WFO oleh para orang tua adalah :

  • “Saya ingin menyediakan segala kebutahan atau sarana yang dibutuhkan oleh anak saya dalam proses belajar”. Hal ini bisa berbentuk buku-buku bacaan, komputer, internet dllnya.
  • “Saya ingin menyesihkan waktu untuk menemani Anak saya dalam proses belajar”
  • “Saya ingin memberikan les atau bimbingan belajar tambahan”
  • “Saya ingin membawa anak saya untuk melakukan konseling atau bahkan treatment atau terapi ke ahli psikologi untuk menemukan berbagai kemungkinan adanya hambatan dalam proses belajar dan membangkitkan adanya motivasi belajar”
  • “Saya ingin menyediakan makanan yang khusus dan bergizi tinggi untuk anak saya agar lebih sehat dan memiliki tenaga untuk belajar”
  • Dan lain-lain yang masih menjadi kontrol Anda untuk melakukan namun mendukung tercapainya target dan tujuan.

Namun untuk, “Rajin belajar”, bisa dijadikan outcome oleh si Anak sendiri. Sedangkan Juara atau Ranking 1 di sekolah bisa dijadikan Goal (tujuan) bersama.

Dalam kehidupan sehari-hari baik dalam hubungan keluarga, sosial dan pekerjaan, tentu banyak sekali kita memiliki target atau sasaran. Namun sayang sekali, seringkali hal-hal tersebut untuk dapat mewujudkannya masih diperlukan peran atau kontrol dari orang lain. Tentu banyak sekali contoh-contoh yang umum sering kita temui seperti :

  • “Saya ingin pacar, suami atu istri saya baik dan setia”,  “Saya ingin istri, anak dan keluarga saya bahagia”, “Saya ingin istri, anak, keluarga dan teman-teman saya baik, perhatian dan mengerti saya”, dan mungkin masih banyak lagi keinginan-keinginan lain yang sejenis itu. Tentu Anda bisa melihat dan merasakan bahwa hal-hal tersebut sulit untuk dijadikan outcome, dan tentu saja kini Anda sudah mengetahui dan mengerti apa sebabnya. Adalah wajar berharap bahwa pacar, suami atau istri Anda baik dan setia, namun yang realistis dan bisa Anda lakukan adalah berkomunikasi, memberikan dan melakukan sesuatu yang selaras dan yang mereka senangi, sehingga mungkin saja dapat membuatnya bersikap baik dan setia. Terlebih lagi jika Anda melakukannya dengan perasaan yang tulus dan ikhlas, niscaya dapat memberikan hasil yang lebih baik.
  • Demikian juga jika Anda mengharapkan kelurga, teman-teman atau orang lain perhatian dan mengerti kepada Anda. Tentu kini Anda juga sudah pasti mengetahui dan memahami apa yang bisa Anda lakukan untuk itu !  Dengan demikian Anda dapat membuat outcome-outcome yang sesuai dengan tujuan yang dimaksud. Tentu tidak mudah untuk merubah paradigma ini, tapi inilah salah satu pilihan sikap yang paling realistik yang dapat Anda lakukan apabila Anda ingin bahwa Anda memiliki peranan yang besar atas semua yang terjadi dalam kehidupan Anda. Tidak salah berharap agar orang lain perhatian dan memahami Anda, namun jangan sampai Anda menyerahkan kendali hidup Anda kepada orang lain.
  • “Saya ingin menjadi artis yang terkenal”, “Saya ingin menjadi Direktur Utama di Perusahaan BUMN”, dll. Disini tampak jelas bahwa peran dan kontrol dari orang lain atau faktor eksternal masih ada dan bahkan sangat besar. Karena itu, untuk goal seperti ini, yang bisa dijadikan outcomenya adalah hal-hal yang dapat Anda lakukan sendiri yang mungkin menjadi persyaratan terwujudnya goal tersebut. Dan Anda bisa membuatnya menjadi beberapa atau banyak outcome yang mungkin merupakan tahapan proses yang harus dilalui.

Esensi dari persyaratan ini adalah “Tujuan atau sasaran yang dijadikan sebagai outcome sebaiknya dibuat sedemikian rupa sehingga Anda bisa melakukan atau mendapatkannya sendiri tanpa peduli apapun yang dilakukan oleh orang lain”.

Dalam sesi konseling maupun terapi, banyak sekali saya temui berbagai permasalahan dalam keluarga, persahabatan dan sosial seperti konflik hubungan antara suami dengan istri, orang tua dengan anak, maupun dalam hubungan pertemanan atau persahabatan, disebabkan karena mereka mencoba mengambil alih kontrol atau kendali yang seharusnya dimiliki dan dilakukan oleh orang lain. Banyak orang mengharapkan kebaikan dan pengertian dari orang lain, namun demikian tidak diikuti oleh komunikasi dan berbagai tindakan yang sesuai atau tepat yang dapat membuat kemungkinan orang lain bersikap baik dan mengerti.

Suatu hari dalam perbincangan dengan sahabat saya Yan Nurindra di Denpasar, ada sebuah pernyataan yang membuat saya sangat berkesan, kalau saya tidak salah dengar dan tafsir, “Hidup ini akan lebih sederhana, jika kita hanya melakukan dan mengambil hal-hal yang berada dalam jangkauan kontrol kita. Serta bisa menerima dan melepaskan hal-hal yang berada diluarnya”. Seperti dalam lalu litas kendaraan, Anda hanya bisa memastikan dan mengendalikan kendaraan yang Anda kendarai sendiri. Dan Anda tidak bisa memastikan dan mengendalikan kendaraan lain yang dikemudikan oleh orang lain pula.

3. Usahakan Outcome Dibuat Spesifik dan Berbasis Indrawi

“Saya ingin hidup tenang, damai dan bahagia”, “Saya ingin menjadi orang sukses dan kaya raya”, “Saya ingin menjadi orang yang terkenal”, “Saya ingin melakukan sesuatu yang menarik”, “Saya ingin disukai dan dikagumi banyak orang”, dll. Sepintas tidak ada yang salah dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Bahkan setiap orang mungkin menginginkan hal tersebut terjadi dalam hidupnya. Namun jika diamati secara cermat maka pernyataan-pernyataan tersebut tidaklah jelas sehingga sulit untuk ditindak lanjuti dalam bentuk aktivitas yang nyata dan terarah. Karena itu, hal-hal tersebut perlu didefinisikan dan dijabarkan lebih detail dan spesifik sehingga dapat berwujud berbagai aktivitas-aktivitas maupun materi yang dapat diukur dan dirasakan oleh indra kita.

Pikiran manusia hanya bisa merespon berbagai hal yang dapat direpresentasikan secara jelas oleh alat indra. Karena itu berbagai hal yang diinginkan sebaiknya dibuat sespesifik mungkin sehingga alat indra dapat mengenali, memahami dan merasakannya dengan baik sehingga pikiran dapat dengan mudah dan focus membantu untuk mewujudkannya. Seperti halnya jika Anda akan pergi ke sebuat tempat yang belum pernah Anda kunjungi sebelumnya, maka jika Anda memiliki peta yang baik, jelas dan lengkap dengan berbagai keterangan atau petunjuk yang diperlukan, tentu Anda dapat memulai menempuhnya hingga sampai ditempat yang dimaksud dengan lebih mudah dan cepat.

Jika yang Anda inginkan adalah Tenang, Damai dan Bahagia, tentu Anda harus dapat mendefinisikan dan menggambarkan apa yang dimaksud dengan Tenang, Damai, dan Bahagia itu ? Apakah yang dimakasud dengan Tenang itu adalah diam dan tidak melakukan apapun ? Apakah tenang itu artinya dapat menerima keadaan dan apapun yang terjadi dan akan terjadi dalam kehidupan Anda ? Atau tenang itu … ? Ya, renungkan dan kemudian sedapat mungkin Anda mendefinisikannya secara jelas dan sespesifik mungkin dalam bentuk materi ataupun berbagai aktivitas sehingga Anda bisa memulai untuk menindak lanjutinya.

Tenang, Damai dan Bahagia itu bisa jadi hanyalah suatu state atau kondisi tertentu akibat dari suatu reaksi kimia dalam tubuh.  Dimana rekasi kimia ini dapat dipicu dan dipengaruhi oleh “makanan, minuman, obat-obatan, dll” serta “persepsi pikiran”. Tentu saja persepsi dapat dipenguruhi oleh “internal dialog atau internal proses”, maupun oleh “berbagai fakta kejadian dan pengalaman yang datang dari faktor eksternal”. Hubungan ini bisa berlangsung secara timbal balik. Karena itu jika Anda menginginkan kondisi itu, maka buatlah outcome-outcome riil yang mungkin dapat membuat Anda mamasuki kondisi itu.

Jika suatu outcome tidak dibuat secara spesifik, hanya berupa suatu pernyataan yang menyatakan suatu kondisi, bisa jadi pikiran menterjemahkan dan mengarahkannya kepada berbagai hal yang mengarah pada terwujudnya kondisi yang dimaksud, namun belum tentu hal tersebut berupa sesuatu yang bersifat memberdayakan bahkan bisa jadi kontra produktif. Mungkin saja keinginan Anda untuk tenang bisa mengarahkan Anda pada perilaku atau kebiasaan mengkonsumsi minuman keras atau bahkan mungkin sampai narkoba, dll.

Kalau Anda orang yang super sibuk, sehingga Anda sering merasa jenuh, tidak tenang, tertekan atau stress, mungkin Anda dapat membuat outcome “Saya akan mengurangi aktivitas saya sehingga saya memiliki banyak waktu untuk berkumpul dan bersenang-senang bersama kelurga dan atau teman-teman”.

Kalau Anda merasa orang yang emosional, temperamental atau gampang marah, sehingga hidup Anda penuh dengan konflik, mungkin Anda bisa membuat outcome “Saya ingin lebih banyak bersembahyang, meditasi dan melakukan treatment atau terapi agar bisa lebih sabar dan dapat mengendalikan diri”.

Demikian juga jika yang Anda inginkan adalah sukses dan kaya raya, maka definisikan hal tersebut dengan jelas dan sespesifik mungkin apa yang Anda maksudkan dengan sukses dan kaya raya itu. Misal Anda memiliki simpanan di Bank sebanyak … juta, milyard atau trilyun sebelum usia 50 Tahun. Atau Anda ingin memiliki usaha sendiri di bidang tertentu yang dapat memperkerjakan …. orang dan dapat menghasilkan keuntungan Rp. …. per tahunnya ? Atau apapun itu, sehingga Anda dapat memetakan secara baik serta dapat memulai dan menindak lanjutinya.

Untuk menghadapi suatu outcome yang besar, sebaiknya dipilah-pilah atau dipotong-potong menjadi beberapa atau banyak outcome yang lebih kecil dan bertahap dengan kerangka jangka waktu. Pertimbangkan dan kenali secara baik posisi dan kondisi saat ini (current state), dengan berbagai faktor yang memperkuat maupun yang menghambatnya, sehingga memudahkan untuk bagaimana menindaklanjuti, khususnya berbagai hal yang menjadi langkah awalnya, dan juga untuk dapat mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilannya.

4. Pertimbangkan Konteksnya

Suatu outcome bisa jadi tidak berlaku menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan. Anda bisa memiliki outcome untuk kepentingan karir dan pekerjaan, tapi mungkin outcome tersebut tidak selaras jika diterapkan dalam kehidupan keluarga atau sosial. Karena itu, suatu outcome juga perlu mempertimbangkan konteksnya. Mungkin Anda orang yang begitu serius dan suka akan tantangan dalam pekerjaan, namun dalam kehidupan keluarga atau sosial, mungkin Anda menginginkan kondisi yang sebaliknya, yaitu suasana santai, releks dan penuh canda. Karena itu suatu outcome bisa bekerja baik dalam satu konteks belum tentu berhasil diterapkan dalam konteks yang lainnya.

Seperti halnya ketika Anda ingin bersikap terbuka, jujur dan blak-blakan, apakah mungkin hal itu bisa berlaku dalam segala konteks dan situasi ? Ketika Menghadapi keluarga dan pasangan hidup ? Ketika dengan Bos ? Dengan teman atau orang lain ? Apakah itu sepanjang waktu ? Belum lagi jika ada tuntutan profesi atau pekerjaan seperti jika Anda adalah seorang politikus, intel, mata-mata atau lainnya yang tidak memungkinkan untuk bersikap terbuka dan jujur setiap saat dan kondisi. Wow…, terasa dan tampak jelas bahwa hal ini jika tidak disadari akan memicu timbulnya berbagai konflik.

Karena itu, jika konteksnya membutuhkan suatu perilaku tertentu untuk operasionalnya, maka sebaiknya perlu dibuat lebih spesifik, detail dan tegas batas-batasnya, termasuk waktu dan orang-orang yang mungkin akan terlibat didalamnya, untuk menghindari adanya konflik kepentingan maupun konflik yang disebabkan oleh berbagai sistem kepercayaan.

Mempertimbangkan konteks juga sangat diperlukan untuk menentukan berbagai pilihan aktivitas-aktivitas yang mendukung efesiensi & efektivitas terwujudnya suatu outcome.

  • Anda tidak perlu sekolah atau kuliah dibidang komputer jika tujuan Anda hanya sekedar bisa mengoperasikan komputer untuk keperluan office saja. Mungkin Anda cukup membaca buku, atau bisa mengambil kursus-kursus singkat kalau perlu private dan tanpa sertifikasi.
  • Anda tidak perlu belajar NLP sampai tingkat Master, jika tujuan Anda hanya ingin menghilangkan phobia. Anda hanya cukup menemui para praktsi NLP yang mampu membantu Anda untuk itu. Walaupun belajar NLP itu juga penting dan diperlukan sebagai salah satu pengetahuan yang dapat membuat kehidupan Anda menjadi lebih mudah, baik dan menyenangkan. Dan untuk itu Anda bisa belajar melalui buku-buku, web site, disksusi-diskusi dengan para praktisi dan pakar NLP maupun bisa juga melalui workshop singkat atau bahkan sampai workshop yang bertarap internasional bila Anda memiliki waktu dan investasi yang cukup.

Tentu masih banyak lagi contoh-contoh lainnya, dimana konteks merupakan hal penting yang harus dipertimbangkan dalam menentukan suatu outcome dan kemudahan proses pencapaiannya.

 

5. Yakinkan Outcome Memiliki Akses ke Sumber Daya

Disadari atau tidak, satu hal yang mendasar dari apa yang diinginkan oleh kebanyakan orang adalah perubahan (chage). Diciptakannya berbagai metodelogi salah satunya adalah dimaksudkan untuk mendukung lahirnya suatu perpindahan atau perubahan secara disengaja dan terarah. Tentu saja perubahan yang dimaksudkan adalah perubahan dari kondisi saat ini (current state) menuju ke kondisi yang diinginkan (desired state). Karena itu, untuk dapat menghasilkan suatu perubahan yang baik dan cepat, diperlukan adanya resources atau sember-sumber daya yang selaras dan baik pula. Sumber-sumber daya ini dapat berupa sumber daya fisik maupun non fisik, juga bisa berasal dari dalam diri seperti Kesehatan dan kekutan fisik, Pengetahuan, Keterampilan, Keberanian, Semangat, Motivasi, Perilaku dan lain-lain, maupun dari luar diri seperti Modal, Uang, Aset-aset seperti barang, Peralatan dan Gedung, Hubungan dengan orang lain (teman, sahabat dan saudara), Jaringan Telekominkasi, Internet, dan lain-lainya.

Tentu Anda bisa dengan mudah mengetahui dan memahami serta menghubungkan masalah sumber daya ini dengan outcome yang ingin di capai. Tujuan dari persyaratan ini adalah untuk lebih menegaskan dan mengingatkan agar outcome yang dibuat secara spesifik dan realistik telah didukung oleh sumber daya yang memadai. Namun bilamana sumber dayanya belum ada atau belum mencukupi maka tahap awal bisa dibuat outcome tersendiri untuk mendapatkan dan melengkapi sumber daya yang dimaksud.

6. Pastikan Outcome Tetap Memelihara Mafaat-Manfaat Yang Sudah Ada

Seringkali orang telah memiliki motivasi atau semangat terhadap pencapaian suatu outcome, namun kadang mengalami kesulitan untuk meraihnya. Salah satu hal yang mungkin berpengaruh terhadap pencapai suatu outcome adalah terkait dengan adanya perilaku-perilaku mereka yang mungkin tidak mendukung namun secara terselubung telah memberi manfaat, dimana kalau perilaku tersebut dihilangkan atau dirubah maka manfaatnya juga ikut hilang. Manfaat atau efek seperti itu disebut produk sampingan yang positif (positive by product) atau perolehan sekunder (secondary gains).

Misal, ada orang yang memiliki kebiasaan minum kopi dan merokok dalam kurun waktu yang cukup lama, tentu kebiasaan tersebut telah terasosiasi dengan berbagai manfaat, baik secara fisik maupun psikologis seperti rasa nyaman, tenang, segar, gaya atau apapun, sehingga mereka terus saja melakukan kebiasaan tersebut. Tentu saja manfaat tersebut bisa ditimbulkan oleh unsur kafein dari kopi dan nikotin dari rokok. Nah, jika suatu outcome yang dibuat ternyata konsekwensinya adalah harus merubah pola atau menghilangkan kebiasaan tersebut, seringkali terjadi konflik dan menyebabkan tidak maksimalnya suatu outcome tersebut dapat dicapai. Untuk masalah seperti ini, perlu dicarikan hal-hal lain yang dapat menggantikan namun manfaat yang ditimbulkan tetap terasosiasi dengan manfaat sebelumnya. Karena itu, mungkin langkah awalnya adalah membuat outcome merubah kebiasaan tersebut.

Sesuai dengan salah satu presuposisi NLP bahwa “Every behavior has utility and usefulness – in some context”. Hal ini berarti juga bahwa apapun yang dilakukan oleh seseorang sebenarnya dimaksudkan untuk hal yang baik dan memiliki manfaat positif didalamnya, walaupun mungkin manfaatnya bersifat kondisional dan pribadi, sehingga setiap orang bisa berbeda dalam memaknainya. Kalau sesuatu tersebut tidak dimaksudkan dan tidak memiliki manfaat apapun niscaya hal tersebut tidak akan pernah terjadi dan dilakukan. Adapun akibat lain yang ditimbulkan oleh perilaku tersebut juga membawa dampak negatif dalam kondisi dan konteks yang lain, itu adalah hal berbeda.

Sebagai contoh yang ekstrim adalah banyak orang yang mengkonsumsi dan atau terlibat dalam norkoba. Mereka bukan tidak mengetahui adanya berbagai resiko yang ditimbulkan oleh narkoba, namun manfaat yang ditimbulkan dalam situasi dan kondisi tertentu bagi mereka mungkin sangat besar dan kuat sehingga tidak mudah untuk membebaskan diri dari jeratannya. Manfaat tersebut bisa berupa efek biologis dan psikologis akibat reaksi kimia yang ditimbulkan, namun juga ada aspek ekonomi yang sangat besar khususnya bagi para pengedarnya dari transaksi ini, sehingga mereka bisa mengabaikan berbagai resiko yang sebenarnya jauh lebih besar yang mungkin hampir setiap orang mengetahuinya, yaitu resiko rusaknya fisik sampai dengan kematian, hukum, ekonomi bagi pengguna, keamanan, kriminal, sampai pada kemungkinan resiko rusaknya sebuah peradaban bangsa dan negara.

Contoh lain, jika seseorang mememiliki perilaku atau kepribadian yang terbuka, senang berinteraksi dan berkumpul dengan banyak orang, dan bahkan seringkali waktunya banyak dihabiskan diluar rumah atau kantor, ketika konsekwensi dari outcomenya mengharuskan lebih banyak waktu untuk focus sendiri dan lebih banyak di rumah atau kantor maka hal tersebut dapat menimbulkan konflik apalagi hal tersebut dimaksudkan untuk jangka waktu yang lama. Demikian juga sebaliknya, jika orang tersebut memiliki kepribadian yang cenderung tertutup dan tidak begitu suka berhubungan dengan banyak orang, maka ketika konsekwensi outcomenya adalah mengharuskannya banyak berinteraksi dengan banyak orang, tentu juga dapat menimbulkan masalah atau konflik.

Bahkan dari pengalaman dalam menangani berbagai kasus trauma dan phobia yang dialami oleh seseorang, apalagi hal tersebut telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, seringkali juga memiliki manfaat yang positif seperti adanya perhatian dan permakluman dari keluarga atau lingkungannya terhadap ybs untuk bisa melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Karena itu, jika  seorang therapist ingin membantu seseorang untuk menyembuhkan trauma, phobia atau merubah perilaku yang dianggap negatif, maka perlu kiranya mempertimbangkan dan mencari tahu adanya asosiasi positif sebagai efek sampingnya, sehingga tidak begitu saja menggunakan teknik-teknik cepat dan gampang karena mungkin saja bisa berdampak kurang baik dalam konteks dan kondisi tertentu atau kontra produktif. Hal ini sesuai juga dengan salah satu presoposisi NLP bahwa “Setiap pengalaman memiliki struktur”. Ini artinya setiap struktur bisa saja saling berhubungan dengan struktur lain yang lebih besar, yang mungkin saja merupakan mata rantai pertahanan atau kelangsungan hidup (survival) seseorang.

Tentu masih banyak contoh-contoh lain yang terkait dengan suatu pola perilaku yang terasosiasi dengan manfaat-manfaat positif tertentu (positive by product atau secondary gains). Dalam konteks seperti ini perlu adanya suatu strategi untuk menyiasatinya karena kalau tidak secondary gains ini bisa mensabotase outcome yang telah dibuat. Bahkan jika tidak memungkinkan untuk merubah pola perilaku karena alasan-alasan tertentu maka pertimbangkan untuk melakukan penyesuaian atau perubahan pada outcomenya.

7. Periksalah, Apakah outcome yang dibuat Ekologis

Tentu sulit atau bahkan tidak mungkin dalam kehidupan modern seperti sekarang ini kita menghidari adanya proses interaksi dan hubungan dengan orang lain. Karena itu apapun yang kita lakukan disamping memiliki pengaruh terhadap diri sendiri juga memiliki pengaruh terhadap keluarga, orang lain atau masyarakat sekitar, baik secara langsung atau tidak, sedikit atau banyak. Karena itu perlu disadari bahwa setiap outcome yang ditetapkan, sekecil apapun itu dipastikan memiliki pengaruh berantai pada lingkungan (ekologi) kita. Karena itu NLP memberikan penekanan akan pentingnya mempertimbangkan manfaat dan mudhartnya dari konsekuensi yang ditimbulkan oleh suatu outcome terhadap “Ekologi” yaitu dunia atau tempat sekitar kita, termasuk norma, adat istiadat, beliefs system, hukum dan juga orang lain yang ada didalamnya.

Keluarga adalah salah bentuk ekologi yang paling kecil dan dekat. Bahkan banyak sekali suatu outcome dibuat dimaksudkan untuk kebaikan dan kebahagian keluarga. Karena itu tidak jarang kita temui pasangan suami istri yang ingin bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan ekonomi keluarga agar menjadi lebih baik. Namun seringkali justru mereka jadi kurang waktu untuk berkomunikasi dan saling memperhatikan bahkan juga terhadap anak-anaknya. Tentu saja hal ini dapat menimbulkan banyak kesalahan pahaman yang berujung pada disharmoni atau konflik keluarga yang serius. Demikian, karir dan pekerjaan yang tadinya diharapkan dapat membuat keluarga lebih baik dan bahagia tapi yang terjadi bisa kebalikannya.

Beberapa tahu yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman. Ia seorang doktor dan menjadi dosen disuatu perguruan tinggi. Ia meminta bantuan saya untuk melakukan terapi pada satu-satunya adik laki-laki yang sudah sarjana dan berumur sekitar 30 tahunan. Saya pikir adiknya stress, tapi ternyata tidak. Adiknya memiliki hobi musik dan main band sejak usia SMP. Dia memiliki group band yang bermain di cafe-cafe. Orang tuanya adalah pengusaha sukses, kaya dan memiliki banyak usaha. Orang tuanya tidak setuju adiknya berprofesi sebagai pemain musik, apalagi sampai saat itu tidak memberikan hasil yang memadai. Mereka berharap adiknya berhenti main band dan focus membantu usaha orang tuanya. Namun adiknya menolak sehingga hubungan dengan orang tuanya bermasalah dan bahkan saat itu adiknya memilih untuk meninggalkan rumahnya.

Saya sampaikan bahwa mungkin tidak mudah mengatasi hal tersebut, tapi saya sarankan untuk dicoba dan membawa adiknya ke tempat saya. Tapi sayang adiknya tidak pernah mau. Dalam beberapa kesempatan saya pernah menonton adiknya bermain band, terlihat dia sangat menikmati profesinya. Dan saat saya sempat ketemu dan ngobrol sama adiknya, dia tidak menceritakan atau menyinggung apapun masalah dengan orang tuanya, tentu saja saya juga tidak menyinggungnya.

Sampai saya bertemu terakhir dengan kakaknya beberapa bulan yang lalu, ternyata masalah tersebut juga masih belum ada jalan keluarnya dan tidak ada yang mau mengalah. Orang tuanya memaklumi kakaknya menjadi dosen dan tidak menjadi pengusaha, namun tidak kepada adiknya yang memilih profesi sebagai pemusik. Tentu hal seperti ini bisa terjadi kepada siapapun, karena itu penting artinya membuat suatu outcome untuk mempertimbangkan ekologi agar tidak menimbulkan suatu konflik. Tentu dalam konteks seperti ini kita tidak bisa memberikan penilaian mana yang benar dan salah, namun tetap saja sangat disayangkan jika hal tersebut membawa konflik keluarga, yang seharusnya masih mungkin bisa dikomunikasikan secara baik untuk dicari jalan keluarnya.

Anda mungkin akan sulit membuat toko, warung, restoran atau cafe yang menyediakan minuman keras didalamnya, disuatu tempat atau lingkungan dimana masyarakatnya tidak mendukung atau tidak memperbolehkan untuk itu. Terlebih lagi jika ada peraturan pemerintah di daerah tersebut yang juga melarangnya.

Tentu masih banyak contoh yang bagus sehubungan dengan berbagai konsekuensi yang timbul akibat ditetapkanya suatu outcome terhadap ekologi, atau sebaliknya pengaruh ekologi terhadap suatu outcome. Bahkan banyak kasus-kasus keributan atau kesuruhan yang terjadi dalam masyarakat, bukan terletak pada salah atau benarnya “sesuatu” yang diributkan, tapi lebih pada ketidak cocokan “sesuatu” tersebut diterapkan dalam suatu lingkungan atau ekologi tertentu. Dan mungkin juga tidak mudah menghindari adanya dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu outcome, hanya saja jika suatu outcome dibuat dengan terlebih dahulu mempertimbangkan aspek ekologinya, maka diharapkan dapat meminimalisasi dan juga persiapkan mental, sikap atau tindakan dalam mengantisipasi bilamana dampak negatif dari outcome tersebut benar-benar terjadi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali uang merupakan salah satu faktor yang sangat kuat yang menjadi pertimbangan suatu outcome. Baik seberapa besar uang yang mungkin akan didapat dari suatu outcome, ataupun seberapa besar uang yang mungkin akan dikeluarkan untuk suatu outcome sebagai nilai tukarnya. Karena itu, suatu outcome yang baik tentu juga mempertimbangkan nilai tukar yang didapat dan aspek-aspek lain yang lebih tinggi, yang mungkin saja berhubungan dengan visi dan misi Anda dalam kehidupan, serta rasa kesejatian Anda sebagai manusia.

Kadang untuk menilai apakah suatu outcome itu benar-benar well formed atau tidak, dapat lihat dari resiko dan manfaat yang mungkin terjadi atau tidak terjadi saat suatu outcome dapat dicapai atau tidak tercapai. Untuk lebih mudahnya, hal tersebut dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

  • Apa yang terjadi jika Anda berhasil meraih outcome tersebut ?
  • Apa yang tidak terjadi jika Anda berhasil meraih outcome tersebut ?
  • Apa yang terjadi jika Anda tidak berhasil meraih outcome tersebut ?
  • Dan apa yang tidak terjadi jika Anda tidak berhasil meraih out tersebut ?

 

8. Definisikan Langkah pertamanya

Perjalanan terpanjangpun harus diawali dari satu langkat pertama. Demikian kata pepatah. Tentu demikian juga jika Anda memiliki keinginan atau tujuan sebesar apapun itu, maka jika ingin hal tersebut terwujud, tidak ada cara lain kecuali Anda harus memulai mengerjakannnya !

Seperti yang telah disinggung diatas, khususnya jika Anda memiliki outcome yang besar maka sebaiknya dibuat menjadi beberapa atau banyak outcome yang lebih kecil sehingga memudahkan untuk menindaklanjuti. Usahakan untuk tahap awal dibuat sesederhana mungkin namun terangkai dengan baik dengan tahap berikutnya. Langkah pertama adalah final sekaligus bagian terpenting dari proses berikutnya agar suatu outcome benar-benar well-formed. Jika Anda gagal di tahap awal, maka dapat berdampak kurang baik pada proses berikutnya, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kemungkinan tidak berhasilnya suatu outcome. Karena itu sekali lagi, Anda harus benar-benar dapat mengetahui dan menentukan secara spesifik tentang apa yang ingin Anda capai sebenarnya, kemudian tentukan dimana dan kapan Anda mulai melakukannya, atau tidak sama sekali !

Tentu Anda masih bisa menambahkan hal-hal yang mungkin Anda anggap penting dan perlu untuk memperbaiki dan memperkuat dalam menyusun suatu outcome, seperti misalnya :

Menentukan urutan atau prioritas kepentingan

Penting untuk menentukan prioritas kepentingan, hal ini untuk menghindari adanya konflik jika Anda dalam kondisi dan waktu tertentu atau bersamaan dihadapkan pada dua atau lebih pilihan yang mungkin sama-sama penting untuk Anda lakukan, namun saat itu tidak memungkinkan untuk memilih semuanya dan Anda harus memilih salah satunya. Karena itu ada baiknya Anda menginventarisir berbagai hal yang penting dalam kehidupan Anda saat ini kemudian menentukan prioritasnya, misalnya :
–    Ekonomi dan Pertumbuhannya
–    Kesehatan
–    Hubungan Keluarga
–    Hubungan Persahabatan
–    Amal, Sosial dan Masyarakat
–    Pengetahuan dan Keterampilan
–    Spitualitas dll.

Mungkin Anda masih memikili banyak hal lagi, dan bisa saja dibuat lebih spesifik lagi, silahkan. Dan bisa saja setiap orang berbeda urutan dan prioritasnya, tentu juga tergantung bagaimana kondisi saat ini. Bagi yang saat ini dalam kondisi ekonomi yang masih kurang, tentu bisa jadi ekonomi dan pertembuhannya menjadi prioritas pertama, kemudian tentukan urutan ke dua dan seterusnya. Bagi mereka yang ekonominya sudah mapan, mungkin kesehatan dan keluarga jadi prioritas, bahkan mungkin saja spiritualitas mejadi prioritas pertama. Urutan tersebut tentu bersifat dinamis, bisa saja berubah namun tentu setelah melalui pertimbangan yang matang atau Anda sudah berada dalam kondisi yang lain lagi. Namun sebaiknya tidak dilakukan secara acak dan asal saja. Hal ini penting jika saat bersamaan ada urusan pekerjaan, bersamaan dengan urusan keluarga, sosial dan kesehatan tentu akan memudahkan Anda menentukan sikap atau pilihan.

Perlu adanya outcome yang memiliki jangka waktu panjang

Memiliki outcome untuk jangka waktu panjang tentu penting, khususnya bagi yang memiliki atau ingin membangun sebuah keyakinan bahwa umurnya masih panjang. Dengan memiliki outcome jangka panjang, kita jadi tahu apa yang harus dijaga dan dilakukan saat ini, maupun nantinya secara jelas, sehingga dapat memelihara dan menjaga spirit serta motivasi setiap saatnya.

Saya pernah bertemu dengan seorang teman yang saat ini umurnya sekitar 50 tahun. Salah satu cita-citanya setelah pensiun nanti, dia ingin naik sepeda gayung keliling Indonesia kalau perlu keling dunia. Wow… mungkin bagi sebagaian orang ini adalah ide gila, namun kalau saya perhatikan dari kondisi dan apa yang dilakukannya saat ini, hal tersebut sungguh sangat realistis. Yang saya tahu, saat ini ybs sangat rajin menyisihkan sebagain penghasilannya untuk keperluan tersebut, itupun sudah dikomunikasikan kepada keluarganya dan keluarganyapun mendukung ide teresbut. Dan yang lebih penting lagi saat ini ybs sangat sehat, serta terus menjaga kesehatan dan staminanya dengan melakukan berbagai latihahan yang mendukung. Selamat sobat ! Semoga apa yang kamu lakukan nantinya dapat menjadi inspirasi, motivasi dan contoh yang baik buat saya atau siapapun juga.

Konsep ini tentu tidak berdiri sendiri, tapi harus bersinergi dengan attitude dan metodelogi lainnya seperti Sensory Acuity, Behvioural Flexibility, Rapport, Neurological Level, Presuppositions, Meta Programs,  dan lain-lainnya untuk dapat menghasilkan suatu perubahan atau kesuksesan sesuai yang diinginkan.

Tentu kita bisa mulai memikirkan outcome-outcome jangka panjang, kalau perlu yang ekstrim dengan jangka waktu ratusan tahun, disamping outcome-outcome jangka pendek sebagai penunjangnya. Kalau Anda yakin  akan berumur panjang, Anda harus memastikan dan berupaya sedapat mungkin memiliki kesehatan yang prima, sehingga Anda dapat menikmatinya, atau sebaliknya Anda akan merasakan penderitaan yang sangat panjang. Saya yakin Andapun tentu telah memiliki berbagai pengalaman, pengetahuan dan konsep mengenai itu. Mudah-mudahan saja tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadi pelengkapnya.

sumber : neonlp.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: