Ayo kita bandingkan Hypnosis vs NLP! (Ronny FR)

12 Mar

Jadi…

Lebih luas mana Hypnosis atau NLP? Apakah NLP mencakup Hypnosis, atau Hypnosis mencakup NLP? Lebih hebat mana Hypnosis atau NLP? Lebih sakti mana, Hypnosis atau NLP? Lebih baik mana, Hypnosis atau NLP? Lebih baik mempelajari yang mana dulu, Hypnosis atau NLP? Lebih mudah mana, belajar Hypnosis atau NLP?

Pertanyaan ini banyak sekali kita jumpai di mana-mana. Mungkin jadi pengin ikutan iseng nambahin pertanyaannya: “Lebih banyak mana pertanyaannya, Hypnosis atau NLP?”

Kalau almarhum Gusdur pada posisi ini, mungkin akan mengatakan “Gitu aja kok repot!”, dan sungguhpun saya pernah berada dalam jarak demikian dekat dengan beliau selama jadi Presiden, kali ini saya memilih untuk repot-repot menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas itu deh.

Banyak yang geleng-geleng kepala dan suka berdebat mengenai Gusdur yang mungkin bagi mereka kontroversial. Dan ngomongin sesuatu yang kontroversial senantiasa menyenangkan, karena memberi kesempataan bagi kita untuk bisa ngotot dan berada pada posisi ‘kelihatan lebih pintar’.

Hehehe, saat ini di TV dan Koran pada ngomongin TimNas sepakbola yang juga kontroversial, dan banyak yang ikut menangguk populer dan menjadi ‘kelihatan lebih pintar’ saat ikutan berdebat soal kontroversi TimNas.

Kalau skala kita perluas lagi, maka ngomongin Julian Assenge dan Wikileaks nya juga merupakan topik yang kontroversial, dan menjadi narasumber perdebatan mengenai Assenge-pun akan memberi kesempatan siapapun untuk menjadi yang‘kelihatan lebih pintar’.

Kenapa ya, Julian Assenge memiliki penggemar dan penganut yang banyak sekali. Namun kenapa pula yang gemar mencerca dan membencinyapun tak kalah jumlahnya juga.

Jadi Julian Assenge sebenarnya siapa, pantaskah ia dipuja sebagai pahlawan ala Robinhood atau haruskah ia dibenci sebagai pencuri?

Aaaaaaah!

Pasti dengan mudah Anda sudah tahu, jawabannya. Persis seperti soal NLP dan Hypnosis! Tergantung Anda melihat dari frame yang mana? Apakah Anda melihat dari Frame yang luas atau yang sempit? Atau melihat dari Frame A, Frame B atau Frame … Sampai dengan Frame Z. Semua ini soal Frame alias Pemilihan Konteks dan Pemilihan Makna saja.

Yo’i…

Mari saya undang Anda menjelajahi berbagai varian derivatif dari pertanyaan ini “Haruskah Julian Assenge dipuja dan haruskah ia dibenci?”, dan sebutlah kita meminjam salah satu ‘ilmu frame’ dari Robert Dilts, yakni Neurological Level:

Nah, mari kita masukkan pertanyaan itu ke dalam Frame di atas :

  1. Yang kita persoalkan : Julian Assenge yang Kapan? Julian Assenge yang Dimana? Julian Assenge dalam Konteks apa yang Anda maksudkan?
  2. Yang kita persoalkan : Ini tentang apa dulu dari yang Julian Assenge lakukan?
  3. Yang kita persoalkan : Julian Assenge dengan pengetahuan apa? Julian Assenge dengan kemampuan apa? Julian Assenge dengan ekspertise apa?
  4. Yang kita persoalkan : Julian Assenge dengan Nilai-nilai dan Belief apa?
  5. Yang kita persoalkan : Julian Assenge dalam jatidiri yang mana? (Aktivis, pecinta, atasan, manusia biasa, dll)
  6. Yang kita persoalkan : Julian Assenge dalam Relasinya dengan apa/siapa? (Tuhan, Kelompok Politik tertentu, Beyond…)

Mari kita terapkan dalam persoalan perbandingan Hypnosis dan NLP ya kawan-kawan…

  1. Yang kita persoalkan : NLP/Hypnosis  yang Kapan (Pengertian NLP dan Hypnosis dulu dan sekarang berbeda)? NLP/Hypnosis yang Dimana (Di berbagai temapat orang mendefiniskan NLP/Hypnosis dengan cara beda-beda)? NLP/Hypnosis dalam Konteks apa yang Anda maksudkan?
  2. Yang kita persoalkan : Ini tentang apa dulu, dari apa yang biasa orang lakukan dengan  NLP/Hypnosis itu?
  3. Yang kita persoalkan : Pengetahuan NLP/Hypnosis  yang mana? Kemampuan NLP/Hypnosis yang mana?
  4. Yang kita persoalkan : NLP/Hypnosis yang mengajarkan Nilai-nilai dan Belief apa?
  5. Yang kita persoalkan : NLP/Hypnosis dalam jatidiri yang mana? (Modeling, Teknik, Komunikasi, Terapi, dll, dll)
  6. Yang kita persoalkan : NLP/Hypnosis dalam Relasinya dengan apa/siapa? (Tuhan, Kelompok Politik tertentu, Beyond…)

Jika mau repot dan punya cukup waktu, mungkin bisa dijawab dulu pertanyaan itu. Sembari menjawabnya, boleh aja melanjutkan ke paragraf di bawah ini.

Yuk, mari saya undang lagi Anda untuk menjelajahi berbagai varian derivatif lain dari pertanyaan ini lagi “Haruskah Julian Assenge dipuja dan haruskah ia dibenci?”. Lho, kali ini, bagaimana jika kita lakukan dalam posisi perceptual yang lain, sekarang “diri si penanya (saya)” yang dimasukkan dalam Neuro Logical Level itu :

  1. Kapan, Dimana, dan berada dalam konteks apa, saya dalam menilai Julian Assenge?
  2. Apa yang saya lakukan, dalam menilai  Julian Assenge?
  3. Dengan pengetahuan apa sih yang saya miliki, untuk menilai Julian Assenge? Pada kapasitas kemampuan apa, saya menilai Julian Assenge? Punya kualitas ekspertise apa, yang saya pakai untuk menilai Julian Assenge?
  4. Belief dan Nilai-nilai apa yang saya anut, saat menilai Julian Assenge?
  5. Jati diri apa yang saya pakai, saat menilai Julian Assenge? (Guru, LSM, Pemerintah, Awam, Ahli Hypnosis, manusia biasa, dll)
  6. Dalam Relasinya dengan apa/siapa, saat saya menilai Julian Assenge? (Tuhan, Kelompok Politik tertentu, Beyond…)

Wellhadalah!  Kok akhirnya malah jadi benar ya, kata-kata Gusdur… Akhirnya malah jadi repot sekarang. Kok akhirnya malah jadi rumit ya. Kok akhirnya malah jadi puyeng ya?

Pantas saja, akhirnya topik Julian Assenge menjadi kontroversial, lha wong Frame untuk menilainya bisa Multidimensional ‘gitu. Padahal masing-masing pada ngotot sebagai yang paling ngerti…  karena apa? Karena mendapat kesempatan menjadi ‘kelihatan lebih pintar’.

Lho sebentar, anehnya pas saya puyeng, saya kok saya malah jadi ngerti sekarang, maksud kata-kata Gusdur dengan “Gitu aja kok repot!”

Jadi…

  • Lebih luas mana Hypnosis atau NLP?
  • Apakah NLP mencakup Hypnosis, atau Hypnosis mencakup NLP?
  • Lebih hebat mana Hypnosis atau NLP?
  • Lebih sakti mana, Hypnosis atau NLP?
  • Lebih baik mana, Hypnosis atau NLP?
  • Lebih baik mempelajari yang mana dulu, Hypnosis atau NLP?
  • Lebih mudah mana, belajar Hypnosis atau NLP?

Ya wislah…

Tinggal ganti saja semua kata Julian Assenge dengan pertanyaan mengenai perbandingan Hypnosis dan NLP itu.

Oh, perlu contoh…

Baiklah….

  • Saat menilai ‘Lebih hebat mana Hypnosis atau NLP’? Pengetahuan apa sih yang saya miliki tentang Hypnosis dan NLP? NLP itu apa artinya bagi saya: Apakah Modeling, Sikap, Teknik atau apa? Hypnosis itu apa artinya bagi saya: Apakah ‘komunikasi ekselen’, ‘seni memby-pass critical area’, ‘membuat orang masuk dalam kondisi seperti tidur?’ atau apa?
  • Kapasitas kemampuan apa sih yang saya miliki tentang Hypnosis dan NLP, saat saya menilai ‘Lebih luas mana Hypnosis atau NLP’?
  • Kualitas ekspertis apa sih yang saya miliki tentang Hypnosis dan NLP, untuk   menilai ‘Hypnosis lebih luas atau lebih sempit dari  NLP’?

Anda akan menemukan sendiri jawabannya, saat mulai bertualang untuk berani menjawab seluruh pertanyaan itu dengan apa yang Anda ketahui.

Di suatu sudut nun jauh dari Santa Cruz California, bisa kita bayangkan ada seseorang duduk manis sambil cekikikan, menonton dengan senang perdebatan kontroversial ini. Mungkin ia mulai membatin sekarang… “Apapun jawabannya…, mo’ Hypnosis kek, mo’ NLP kek… repot-repot amat. Yang penting saya malah jadi lebih pintar, dan diperkaya dengan berbagai frame sudut pandang! Apalagi dibahas dengan Neurological Level!”.

Mungkin di sini kita jadi mengerti maksud Richard Bandler saat mengatakan : “Kebutuhan manusia yang mendasar adalah menjadikan dunia ini masuk akal bagi dirinya”. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu tentu saja dalam rangka seseorang ingin mlihat dunia ini secara masuk akal (di level akal yang ia kuasai lho)!

 

sumber ; ronnyfr.com

Satu Tanggapan to “Ayo kita bandingkan Hypnosis vs NLP! (Ronny FR)”

  1. chmad jupri 18 Juli 2011 pada 11:44 am #

    dak ada yg bagus dua2nya
    la wong semua itu kepentingan nafsu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: