Renungan ‘ala NLP tentang puasa (Ronny FR)

12 Mar

Hari ini saya mendapat banyak sekali ucapan selamat mempersiapkan diri menghadapi puasa melalui SMS maupun email. Dengan cepat hal ini membuat saya stop sejenak, berhenti mengerjakan apapun yang lain, kemudian mulai berpikir mengenai persiapan apa yang akan saya lakukan dalam menghadapi puasa nanti?

Emmm…, apa yaaaah?

Oke deh, kiranya dalam memahami esensi puasa saya memilih menyitir dari sumber lagu pop saja, jadi bolehlah saya meminjam syair karya Taufiq Ismail dalam lagunya Bimbo yang berjudul “Anak bertanya pada bapaknya”, dalam lagu itu dikatakan demikian :

Ada anak bertanya pada bapaknya:

Buat apa berlapar-lapar puasa…?

Ada anak bertanya pada bapaknya:

Tadarus tarawih apalah gunanya…?

Lapar mengajarmu rendah hati selalu…

Tadarus artinya memahami kitab suci…

Tarawih mendekatkan diri pada Illahi…

Nah,

Karena saya bukan ahli agama, saya merenungkan makna dalam hal yang saya mengerti saja, secara NLP khususnya linguistik ya… Unuk pembahasan yang lebih relijius khan sudah banyak di luar sana…. Yah, itung-itung untuk wacana saja…., mungkin ada baiknya tidak perlu meletakkan harapan terlalu tinggi untuk mendapatkan penyegaran rohani dari artikel ini.

Mari lihat pada baris ke lima yakni “Lapar mengajarmu rendah hati selalu”, berdasar dari kata ini dapat dibedah linguistiknya, berbentuk Cause – Effect pattern. Kata kuncinya C–>E adalah pada kata “mengajarmu”, inilah pembentuk C –> E nya.

Cause                    –>           Effect

Lapar                    –>           Rendah Hati

Artinya, diyakini bahwa oleh sebab lapar, maka akibatnya kita akan belajar menjadi “rendah hati”. Jadi luar biasa sekali bahwa melatih rendah hati dapat dengan cara mensimulasi diri masuk dalam state of mind “lapar”.  Saya tidak tahu bagaimana tepatnya kondisi lapar bisa membuat seseorang belajar jadi rendah hati. Nanti pada bagian akhir kita akan lihat, apakah “rendah hati” ini memang bisa digenerate dari suatu kondisi atas “lapar” pada makanan-minuman?

Nah,

Kita beralih dulu melihat dalam lagu itu juga ada kata “selalu”, apa artinya ini secara linguistik? Kata “selalu” menunjukkan gejala bahasa yang disebut “Universal Quantifier”. Artinya suatu generalisasi yang berlalu secara universal, terus menerus, tanpa kecuali.

Nah, jadi untuk bisa masuk ke kondisi “rendah hati selalu”, tentunya tidak cukup berpuasa satu hari. Maka menjadi jelas kenapa agama meminta kita berpuasa 1 bulan dalam bulan ramadhan ini. Jadi bukan hanya satu kali dalam hidup kita diwajibkan belajar “rendah hati”, namun harus dilakukan dalam satu bulan, bahkan mengulang terus menerus setiap tahunnya …!

Cause                    –>           Effect

Lapar                    –>           Rendah Hati

Lapar 1 bulan       –>           Rendah Hati Selalu

(setiap tahun)

Jadi, diharapkan melalui pemrograman habituasi lapar – yang terpola selama 1 bulan, dan diulang setiap tahun-, maka diharapkan manusia akan belajar menjadi “rendah hati selalu”.

Nah, “rendah hati selalu” adalah suatu model dunia yang penting dalam agama tentunya, kok sampai-sampai perlu dilatih. Apa yah, istimewanya model dunia “rendah hati selalu” ini, kok bahkan sampai-sampai perlu dilatih melalui ibadah puasa, yang notabenenya merupakan salah satu Rukun Islam?

Tentunya tidak perlu dibahas di sini bahwa rendah hati jelas-jelas berbeda dengan rendah diri. Rendah diri adalah suatu kondisi diri yang selalu merasa rendah, merasa incompetence, merasa tidak mampu, merasa kalah, merasa minor, merasa submissive, dan seterusnya.

Rendah hati adalah suatu sikap dan keputusan.

Secara linguistik, orang disebut rendah hati, karena ia dengan sengaja menempatkan dirinya menjadi rendah dihadapan yang lain. Dengan demikian sebenarnya ia berada di posisi (maqom) yang tinggi. Sebab orang yang maqom-nya rendah tidak akan bisa merendahkan diri lagi. Lha mau merendahkan ke mana lagi, kalau dirinya sudah rendah?

Mari kita selami kawan-kawan…, saat Anda sedang merasa “rendah hati” itu seperti apa sih? Apa yang terjadi kemudian di dalam dunia internal Anda dan dunia eksternal Anda? Silahkan Anda berpartisipasi menulis pendapat Anda dibawah ini, apa yang akan terjadi saat kita menjadi rendah hati, apalagi rendah hati selalu?

Saya pernah belajar dari seseorang, bahwa rendah hari bolehlah dipersamakan artinya dengan kata tawadhu’, yang merupakan lawan kata dari takkabur (sombong). Tawadhu’ berasal dari lafadz Adl-Dla’ah yang berarti kerelaan manusia terhadap kedudukan yang lebih rendah, atau rendah hati terhadap orang yang beriman, atau mau menerima kebenaran, apapun bentuknya dan dari siapapun asalnya.

Wuih, kok lumayan…

Apa yang saya pelajari di NLP mengenai pengertian rapport bisa dikorelasikan disini.  Rapport adalah proses menghargai, merespek dan memahami model dunia orang lain. Jadi pada waktu Anda bersedia mengakuisisi attitude NLP yang berjudul “respek pada model dunia orang lain”, maka sebenarnya kitapun akan semakin “rendah hati selalu”.

Ya, benar!

Rendah hati tentunya berbeda dengan “mengesankan diri rendah hati”, secara komplit benar-benar merupakan dua hal yang berbeda. Sesungguhnya “mengesankan diri rendah hati” justru merupakan bentuk “kesombongan diri”.

Wuih…, paradoxical yang luar biasa! Semoga kita semua dijauhkan diri dari perbuatan seperti ini, dan dijauhkan dari golongan orang yang semacam ini.

Well,

Berdasarkan lagu Bimbo di atas, sekalipun baru menyangkut aspek “lapar makan minum” ternyata itupun sudah dapat dibahas mendalam sekali….

Saya sering bertanya-tanya (bukan mengadili lho), kok sepertinya tidak semua orang yang berpuasa 1 bulan menahan lapar dan haus, bahkan mengulang setiap tahun, lantas menjadi “rendah hati selalu”…? Apa yang hilang ya?

Nah, sejauh yang dipahami, puasa adalah juga latihan pengelolaan hawa nafsu, bukan sekedar berhenti makan minum ketika siang, dan membalas makan minum sepuasnya ketika malam hari. Yang demikian itu sebenarnya hanyalah memindahkan jam biologis metabolisme. Cukup banyak saya menyaksikan orang yang begitu sore sudah nggak sabar untuk berburu makanan nikmat, dan ditimbun banyak-banyak untuk dilahap penuh hasrat nafsu ketika waktu berbuka sudah tiba.

Lucu sekali, ketika tidak sedang berpuasa, mereka makan minum toh biasa-biasa saja, apa adanya. Anehnya, lantas ketika masuk bulan puasa, justru anggaran biaya rumah tangga melambung naik secara  signifikan! Tiba-tiba muncul “mata anggaran” baru karena harus menyiapkan makan-minum sahur yang lebih menimbulkan nafsu makan, menambahkan susu hangat dan coklat, menyiapkan berbagai vitamin untuk memperkuat badan.

Sorenya, menjelang puasa harus menyiapkan hidangan berbuka yang enak-enak, beli kue-kue jajanan pasar di “pasar tiban”, nambah minuman buah khusus semacam kolak atau koktil, dan lain-lain. Belum lagi untuk santapan paska sholat tarawih (bahasa jawa :“jaburan”), serta cemilan malam hari lainnya.

Lha, kalau hanya memindah jam biologis makan seperti ini, makna apa yang diperoleh dengan puasa yah?

Tentu saja saya tidak ingin nyinyir dengan semua itu. Tentu saja boleh saja kita nyiapin vitamin dan makan minum lebih enak…, mungkin itu boleh diatas-namakan sebagai menghormati orang yang berpuasa. Ya khan?

Ups,

Mungkin kita harus berhenti sebentar dan kemudian mulai memikirkan, sebenarnya apa sih tujuan kita berpuasa sebulan setiap tahun? Peningkatan apa yang mau kita dapatkan? Tentunya kalau sekedar pindah jam biologis makan dan penyiapan makanan enak bukanlah termasuk rukun ibadah puasa. Sebab setahu saya (yang masih amat terbatas ilmu agamanya), Rosul tidak mencontohkan yang demikian khan…?

Lha, kalau dalam berpuasa kita malah lebih banyak menghamburkan uang dan makan minum serba berlebih dibandingkan saat tidak berpuasa, apakah ini bagian dari pendidikan dan pengajaran “rendah hati selalu”?

Jadi dari sini dapat disimpulkan, bahwa “rasa lapar” yang dimaksud tentunya bukan hanya lapar atas makan-minum, namun juga lapar yang disebabkan atas pengaruh manajemen / pengelolaan nafsu-nafsu yang lain.

Nah,

Saya menangkap bahwa melalui habituasi berulang berpuasa selama sebulan setiap tahun, dan jika dilakukan dengan benar, maka “rasa lapar lahir bathin” akan segera menjelma menjadi anchor bagi kita untuk masuk ke kondisi “rendah hati”.

Bayangkan, setiap kali hadir “rasa lapar”, maka dengan mudah kita diingatkan (terasosiasi) untuk segera masuk dalam kondisi “rendah hati”… Dan kita tahu, rendah hati adalah state of mind yang useful…

Pelajaran hidup telah mengajarkan bahwa saat masuk pada kondisi “rendah hati”, maka saya menijinkan (allowed) “kekuatan lain” yang berada di luar saya bekerja. Nah, apa jadinya jika “kekuatan lain” yang kita pilih ini adalah berserah diri pada kekuatan Allah Yang Maha Kuasa? Bukankah tiada daya kekuatan apapun melainkan kekuatan YMK?

Oke…, klop sudah saat kita kaitkan dengan syair lagu berikutnya:

Lapar mengajarmu rendah hati selalu

Tadarus artinya memahami kitab suci

Tarawih mendekatkan diri pada Illahi

Nah, jadi dalam kondisi yang rendah hati selalu, kita diharapkan banyak mempelajari dan memahami kitab suci, serta melakukan ibadah sholat tarawih untuk mendekatkan diri padaNya. Sempurna sekali! Rendah hati kepada Nya…, mengingat bahwa kita sebenarnya cuma hamba kecil ciptaanNya.

Ohya,

Ngomong-ngomong soal berbuka puasa…. Pernahkan terpikir kenapa disebut “berbuka” puasa? Secara linguistik kata “berbuka” menunjukkan ada sesuatu yang tadinya tertutup dan lantas dibuka. Nah, jadi apanya yang kemudian “dibuka” itu? Sekaligus juga apa yang selama puasa tadi “ditutup”?

 

sumber :  http://ronnyfr.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: